1
1

IHSG Tutup Agustus di Zona Hijau

Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). | Foto: Media Asuransi/Arief Wahyudi

Media Asuransi, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup bulan Agustus dengan penguatan. IHSG ditutup naik 0,11 persen atau 7,35 poin ke level 6.525,47.  IHSG menguat di tengah situasi geopolitik kurang kondusif dan adanya peluang kenaikan bunga acuan Federal Reserve akhir tahun ini.

|Baca juga: IHSG Sesi I Ditutup Melemah Tipis ke 6.515

Sebanyak 392 saham menguat, 233 saham melemah, dan 166 saham stagnan. Total volume perdagangan mencapai 49,9 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp24,7 triliun.

Di pasar regional, indeks saham negara berkembang Asia MSCI sempat turun hingga 1,6 persen pada perdagangan Senin. Meski demikian, indeks tersebut masih berpotensi mencatat kenaikan lebih dari 3 persen sepanjang Agustus, yang akan menjadi kinerja bulanan terbaik sejak Mei.

|Baca juga: Laba BRI (BBRI) Naik 17,5%, Tembus Rp31,2 Triliun di Semester I/2026

Indeks KOSPI Korea Selatan juga sempat anjlok hingga 3,6 persen, sebelum berbalik menguat sekitar 0,5 persen. Saham Taiwan turun 0,4 persen, tetapi masih menguat 7 persen sepanjang bulan ini.

Sementara itu, indeks saham Taiwan, Taiex, melemah 0,4 persen, meski masih mencatat kenaikan sekitar 7 persen sepanjang Agustus. Pergerakan pasar saham regional dibayangi meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) setelah pernyataan hawkish Ketua The Fed Kevin Warsh.

Sentimen geopolitik Timur Tengah kembali memanas setelah Pasukan Amerika Serikat (AS) membombardir Pulau Larak, Iran dimana dua peluncur rudal Iran dilaporkan hancur.

Dilansir kantor berita Reuters dan Anadolu Agency, Senin pagi, menurut media Iran, sebuah ledakan terdengar di dekat Pulau Larak di Selat Hormuz, Iran, pada Minggu, 30 Agustus 2026, waktu setempat. Kantor berita Fars mengatakan bahwa warga setempat melaporkan mendengar suara ledakan, tetapi lokasi pasti dan penyebab ledakan tersebut masih belum jelas.

Perhatian investor kini tertuju pada sejumlah data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang akan dirilis Jumat pekan ini, yaitu Non Farm Payroll atau serapan tenaga kerja di luar sektor pertanian. Data ini salah satu indikator penting untuk membaca arah kebijakan The Fed. Investor juga akan mencermati data inflasi AS yang dijadwalkan dirilis pada 11 September.

Editor: Irdiya Setiawan 

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Kredit BRI (BBRI) Tumbuh 16,2% Jadi Rp1.646 Triliun di Semester I/2026

Member Login

or