Media Asuransi, JAKARTA – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai menunjukkan pemulihan setelah mengalami koreksi tajam dalam beberapa waktu terakhir.
Penguatan tersebut memunculkan pertanyaan di kalangan pelaku pasar mengenai apakah rebound yang terjadi saat ini merupakan awal dari perbaikan sentimen atau sekadar technical rebound setelah penurunan yang cukup dalam.
|Baca juga: Asuransi Bintang Bagi Dividen Rp5,7 per Saham, Catat Tanggal Pembayarannya!
|Baca juga: Rupiah Lagi Loyo, OJK Wanti-wanti Debitur Valas Bisa Kena Tekanan
Head of Research and Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto menilai penguatan yang terjadi saat ini masih didominasi oleh faktor technical rebound. Namun demikian, menurutnya, pergerakan tersebut bukan tanpa dukungan perkembangan fundamental yang lebih baik dari beberapa hari sebelumnya.
“Rebound tersebut bukan tanpa dasar karena mulai terlihat tanda kebijakan moneter Bank Indonesia yang lebih tegas serta de-eskalasi ketegangan geopolitik turut membantu menstabilkan nilai tukar rupiah dan yield obligasi. Meski demikian, arus modal asing masih cenderung selektif,” ujar Rully, dikutip dari keterangannya, Rabu, 17 Juni 2026.
|Baca juga: Asing Mulai Masuk, IPOT Beberkan Rekomendasi Saham Pilihan Paling Seksi Pekan Ini
|Baca juga: Bukit Asam (PTBA) Tebar Dividen Rp1,32 Triliun di Tengah Tantangan Industri Batu Bara
Sebelumnya, pasar keuangan domestik menghadapi tekanan akibat pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), serta meningkatnya ketidakpastian global. Kondisi tersebut mendorong kenaikan risk premium Indonesia yang pada akhirnya membebani valuasi pasar saham.
Menurut Rully, keberlanjutan penguatan IHSG akan sangat bergantung pada perkembangan sejumlah indikator makro yang menjadi perhatian investor, terutama pergerakan nilai tukar rupiah dan imbal hasil obligasi pemerintah.
View this post on Instagram
“Jika rupiah mampu bertahan menguat dan imbal hasil SBN tenor 10 tahun turun secara bertahap dari level puncaknya di atas 7,3 persen menuju kisaran yang lebih rendah, premi risiko Indonesia akan menurun. Kondisi tersebut membuka ruang bagi masuknya kembali aliran dana asing ke pasar obligasi maupun saham,” jelasnya.
|Baca juga: Harga BBM Naik Gila-gilaan, Asuransi Kendaraan Bakal Kena Getah?
|Baca juga: Soal Kredit Program Pemerintah, OJK Bilang Keputusan Penyaluran Tetap di Tangan Bank
Ke depan, pasar diperkirakan masih akan mencermati perkembangan sentimen global, arah kebijakan moneter, serta stabilitas pasar keuangan domestik.
Meskipun tanda-tanda perbaikan mulai terlihat, namun investor masih menunggu konfirmasi yang lebih kuat bahwa penurunan risk premium dan stabilisasi rupiah dapat berlanjut secara berkelanjutan sebelum optimisme terhadap pasar kembali menguat.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

