Media Asuransi, JAKARTA – Ketua Islamic Insurance Society (IIS) Edi Setiawan mengungkapkan terdapat beberapa dampak akibat dari ketidakpastian geopolitik global terhadap industri asuransi syariah di Indonesia.
Hal itu ia sampaikan dalam acara Wisuda Kelima dan Seminar Islamic Insurance Society 2026 yang mengangkat tema ‘Dampak Geopolitik Internasional, Tantangan dan Peluang Industri Asuransi Global dan Asuransi Syariah di Indonesia‘.
|Baca juga: Sequis Life Siap Ikuti Aturan OJK terkait Batas Investasi Asuransi 20% di Pasar Modal
|Baca juga: Respons OJK saat Hasil Investasi Asuransi Syariah Jadi Negatif Rp121,84 Miliar di Maret 2026
Dalam sambutannya, di Jakarta, Rabu, 20 Mei 2026, Edi mengatakan, kondisi global saat ini memberikan tekanan langsung terhadap industri keuangan dan asuransi, termasuk sektor asuransi syariah nasional.
“Ketegangan geopolitik, perlambatan ekonomi global, perubahan rantai pasok internasional, dinamika harga energi, perkembangan teknologi digital, hingga perubahan regulasi lintas negara telah memberikan dampak langsung terhadap industri keuangan dan industri asuransi global, termasuk industri asuransi syariah di Indonesia,” kata Edi.
Ia menilai tema seminar tersebut relevan dengan kondisi dunia yang tengah menghadapi berbagai ketidakpastian ekonomi dan risiko baru yang semakin kompleks. Menurutnya, konflik geopolitik internasional kini tak hanya memengaruhi stabilitas ekonomi global, tetapi juga memicu munculnya beragam risiko baru di industri keuangan.
“Konflik geopolitik internasional tidak hanya memengaruhi stabilitas ekonomi, tetapi juga meningkatkan berbagai risiko baru, risiko pasar, risiko investasi, risiko rantai pasok, risiko siber, hingga risiko perubahan iklim,” ujarnya.
|Baca juga: LPS Klaim Kondisi Perbankan RI Masih Aman Meski Risiko Global Menghantui
Meski demikian, Edi memandang, kondisi tersebut tetap membuka peluang bagi industri asuransi syariah untuk berkembang lebih besar di Indonesia. Ia mengatakan asuransi syariah memiliki karakteristik yang dinilai semakin relevan di tengah kebutuhan dunia terhadap sistem keuangan yang stabil dan berkeadilan.
“Industri asuransi syariah memiliki karakteristik unik yang berbasis prinsip risk sharing, kehati-hatian, dan berkelanjutan. Nilai-nilai tersebut justru semakin relevan di tengah dunia yang membutuhkan sistem keuangan yang lebih stabil, inklusif, dan berkeadilan,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Islamic Insurance Society juga mewisuda 98 orang pemegang gelar profesi asuransi syariah. Edi mengatakan jumlah tersebut terdiri dari 28 orang pemegang gelar Fellow of the Islamic Insurance Society (FIIS) dan 70 orang pemegang gelar Associate of the Islamic Insurance Society (AIIS).
|Baca juga: BFI Finance (BFIN) Klarifikasi soal Berita Penarikan Paksa Mobil di Tangerang Selatan
|Baca juga: Bos BI Tegaskan Cadangan Devisa RI Tetap Kuat Sesuai Standar IMF
Edi menyebut hingga 19 Mei 2026, Islamic Insurance Society telah memiliki 102 orang pemegang gelar FIIS dan 521 orang pemegang gelar AIIS. Jumlah tersebut menunjukkan perkembangan kualitas sumber daya manusia di industri asuransi syariah Indonesia, meski kebutuhan tenaga ahli dinilai masih terus meningkat seiring pertumbuhan industri.
“Hal ini menunjukkan dua hal penting. Yang pertama, kualitas SDM asuransi syariah Indonesia itu terus berkembang. Yang kedua, kebutuhan terhadap tenaga ahli asuransi syariah masih sangat besar dan akan terus meningkat seiring pertumbuhan industri,” tutur Edi.
|Baca juga: DPR Sentil LPS: Jangan Hanya Jadi Juru Bayar Saja saat Krisis Bank!
|Baca juga: LPS Siapkan Sistem Data Realtime untuk Awasi 1.594 Bank
Ia mendorong para lulusan agar mampu menjadi agen perubahan di industri asuransi syariah, mulai dari meningkatkan literasi masyarakat hingga memanfaatkan teknologi digital dan artificial intelligence secara bijak.
“Saya berharap para wisudawan dapat menjadi agen perubahan dalam industri ini dengan beberapa cara, yang pertama adalah dengan memperkuat literasi dan inklusi asuransi syariah di masyarakat. Yang kedua, mendorong inovasi produk dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan zaman,” katanya.
Lebih lanjut, Edi menyatakan optimistis industri asuransi syariah dapat menjadi salah satu pilar penting pembangunan ekonomi nasional. Hal ini didukung pula oleh populasi Muslim yang besar dan pertumbuhan ekonomi syariah yang terus meningkat di Indonesia.
“Saya yakin asuransi syariah dapat menjadi salah satu pilar penting dalam pembangunan ekonomi nasional,” pungkas Edi.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

