1
1

DAI Ungkap Konflik Timur Tengah Bisa Jadi Penyebab Premi Asuransi Naik Meski Tidak Ada Klaim

Ketua Umum APPARINDO Yulius Bhayangkara. | Foto: Media Asuransi/Arief Wahyudi

Media Asuransi, JAKARTA – Industri asuransi nasional menghadapi tekanan serius akibat konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran. Kondisi itu berdampak langsung terhadap stabilitas bisnis hingga penentuan premi.

Ketua Dewan Asuransi Indonesia (DAI) Yulius Bhayangkara mengungkapkan dampak konflik internasional terhadap sektor asuransi di Indonesia terjadi secara cepat karena tingginya ketergantungan pada pasar global.

Ia mengatakan industri asuransi nasional tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung erat dengan pemain dari berbagai negara.

“Dampaknya ke industri kami memang sangat drastis. Kami sangat tergantung dengan pemain lain di negara lain, dan kondisi perang selalu sulit untuk dielakkan,” ujar Yulius di Jakarta, Rabu, 29 April 2026.

Menurut dia, keterkaitan tersebut terutama berasal dari skema reasuransi, co-insurance, hingga konsorsium global yang membuat risiko tidak hanya ditanggung oleh perusahaan dalam negeri.

Akibatnya, gejolak global seperti konflik AS-Israel melawan Iran berdampak langsung terhadap kenaikan biaya risiko yang kemudian diteruskan ke premi nasabah. Fenomena ini kerap memicu keluhan, terutama ketika premi meningkat meski nasabah tidak pernah mengajukan klaim.

Yulius menjelaskan kenaikan premi tidak semata-mata dipengaruhi oleh klaim individu, tetapi oleh keseluruhan ekosistem risiko global.

“Nasabah sering bertanya, ‘Saya tidak pernah klaim, kenapa premi naik?’ Padahal satu polis tidak hanya dijamin oleh perusahaan di Indonesia, tetapi juga melibatkan reasuransi dan banyak pemain dari berbagai negara,” jelasnya.

Selain konflik geopolitik, ketidakpastian juga diperparah oleh perubahan pola risiko, termasuk dampak perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi. Menurut Yulius, kondisi ini membuat perhitungan risiko menjadi jauh lebih kompleks dibandingkan dengan sebelumnya.

Dalam situasi tersebut, lanjut Yulius, industri asuransi dituntut mengedepankan pendekatan berbasis risiko atau risk based guna memastikan kesiapan keuangan dalam menghadapi potensi klaim di masa depan.

Pendekatan ini dinilai penting agar perusahaan tetap mampu menjaga keseimbangan antara perlindungan nasabah dan keberlanjutan bisnis di tengah tekanan global.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Asuransi Dihadapkan 10 Tantangan Besar di 2026, Industri Wajib Siapkan Ini!
Next Post DAI Pastikan Industri Perasuransian Dukung Pemenuhan Hak Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur

Member Login

or