Media Asuransi, GLOBAL – Pasar asuransi kendaraan bermotor di Malaysia tetap menjadi penyumbang terbesar bagi industri asuransi umum sepanjang 2025. Segmen ini membukukan premi bruto (GWP) 10,9 miliar ringgit Malaysia atau sekitar US$2,6 miliar, setara sekitar 45 persen dari total premi asuransi umum di negara tersebut.
Senior Financial Analyst AM Best Chuah Sin Yee mengatakan premi asuransi kendaraan bermotor tumbuh lima persen secara tahunan (yoy). Kenaikan tersebut mencerminkan permintaan perlindungan kendaraan yang masih kuat di tengah pasar.
Mengutip Asia Insurance Review, Rabu, 15 Juli 2026, meski premi terus meningkat, namun kinerja underwriting belum membaik. Sepanjang 2025, segmen ini masih mencatat rugi underwriting sebesar 290 juta ringgit Malaysia.
Menurut Chuah, kenaikan pendapatan premi belum mampu mengimbangi lonjakan biaya klaim. Kondisi itu terjadi karena nilai pembayaran klaim masih lebih besar dibandingkan dengan premi yang diterima perusahaan asuransi.
|Baca juga: Harga Obat Naik hingga 15% per Tahun, Pengendalian Inflasi Medis Jadi Kunci!
|Baca juga: Sequis Life Luncurkan Asuransi Kesehatan Berkonsep ‘One Care, All In’
Ia menjelaskan meningkatnya frekuensi kecelakaan serta inflasi harga suku cadang, terutama untuk kendaraan pribadi, menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan biaya klaim. Akibatnya, profitabilitas underwriting industri masih berada di bawah tekanan.
Meski demikian, bisnis asuransi kendaraan bermotor tetap menjadi lini usaha yang menarik bagi perusahaan asuransi. Selain memiliki pangsa pasar terbesar, segmen ini juga ditopang oleh permintaan yang stabil dan pertumbuhan premi yang konsisten.
Di sisi lain, digitalisasi diperkirakan semakin memengaruhi perkembangan pasar asuransi kendaraan bermotor di Malaysia dalam beberapa tahun ke depan.
Perusahaan asuransi mulai memperluas investasi pada distribusi digital, otomatisasi, dan analisis data guna meningkatkan efisiensi operasional, mempercepat proses klaim, serta memperbaiki pengalaman nasabah.
Seiring meningkatnya penggunaan kendaraan listrik (EV), perusahaan asuransi juga menghadapi tantangan baru dalam proses underwriting. Biaya perbaikan yang lebih tinggi dan kompleksitas teknologi kendaraan listrik dinilai meningkatkan risiko yang harus diperhitungkan.
Karena itu, perusahaan asuransi di Malaysia mulai menyesuaikan model penetapan premi dan desain produk dengan memasukkan risiko khusus kendaraan listrik.
Sejumlah perusahaan juga memperluas cakupan perlindungan, termasuk untuk peralatan pengisian daya di rumah, kabel pengisian daya portabel, hingga tanggung jawab hukum yang timbul dari aktivitas pengisian daya kendaraan listrik.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

