Media Asuransi, JAKARTA – Kinerja lini bisnis asuransi engineering diperkirakan masih menghadapi tekanan sepanjang 2026. Perlambatan sektor konstruksi dan pembangunan infrastruktur dinilai masih menjadi faktor utama yang membatasi pertumbuhan permintaan produk asuransi tersebut.
Melansir Asia Insurance Review, Rabu, 15 Juli 2026, Corporate Secretary Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) Brellian Gema Widayana mengatakan permintaan asuransi engineering sangat bergantung pada laju pembangunan infrastruktur dan aktivitas konstruksi.
Namun, kedua sektor tersebut masih dihadapkan pada berbagai tantangan sehingga prospek bisnisnya belum sepenuhnya pulih.
Menurutnya, kinerja asuransi engineering sangat dipengaruhi oleh perkembangan proyek yang sedang berjalan. Semakin banyak proyek yang direalisasikan, semakin besar pula peluang pertumbuhan premi pada lini bisnis tersebut.
|Baca juga: BCA Life Catat Laba Melesat 53% di Semester I/2026
|Baca juga: OJK Bidik Dana Rp43,7 Triliun Korporasi Masuk ke Asuransi Kesehatan, Ini Tujuannya!
Selain itu, Brellian menjelaskan, terdapat sejumlah faktor yang memengaruhi kinerja asuransi engineering, mulai dari jadwal pelaksanaan proyek, penyesuaian biaya konstruksi, hingga pengadaan material dan peralatan.
Pergerakan nilai tukar rupiah juga perlu dicermati karena berpotensi memengaruhi biaya proyek, meski dampaknya berbeda-beda bergantung pada karakteristik masing-masing proyek.
Meski demikian, prospek permintaan asuransi engineering dinilai masih memiliki penopang. Hal itu terutama berasal dari proyek-proyek infrastruktur strategis dan pembangunan yang saat ini telah berjalan sehingga kebutuhan perlindungan asuransi diperkirakan tetap terjaga.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

