1
1

OJK Beberkan Biang Kerok ROI Dana Pensiun Tergerus di Awal 2026

Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono. | Foto: OJK

Media Asuransi, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat Return on Investment (ROI) dana pensiun sebesar 0,02 persen berdasarkan data posisi Maret 2026. Angka itu mengalami penurunan dibandingkan dengan di Maret 2025 yang sebesar 0,70 persen.

Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono menjelaskan penurunan itu antara lain dipengaruhi oleh meningkatnya risiko geopolitik global yang memberikan tekanan terhadap pasar keuangan domestik, serta penurunan tingkat suku bunga yang berdampak pada menurunnya yield investasi.

|Baca juga: Purbaya Beberkan Indikator Asumsi Makro Fiskal 2027, Pede Ekonomi RI Tumbuh 6,5%

|Baca juga: Purbaya Ramal Rupiah di Level Rp16.800-Rp17.500 per Dolar AS di 2027

“Khususnya pada instrumen pasar uang dan pendapatan tetap yang masih mendominasi portofolio investasi dana pensiun,” kata Ogi, dikutip dari jawaban tertulisnya, Kamis, 11 Juni 2026.

Meskipun demikian, lanjutnya, dengan pertumbuhan ekonomi domestik yang masih positif dan inflasi yang relatif terjaga, kinerja ROI dana pensiun pada 2026 masih diperkirakan tetap mampu tumbuh positif, kendati pencapaiannya akan sangat dipengaruhi oleh dinamika pasar global dan domestik.

 

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Media Asuransi (@mediaasuransinews)

Ke depan, masih kata Ogi, tantangan utama industri dana pensiun antara lain berasal dari volatilitas pasar keuangan, perubahan suku bunga, tekanan geopolitik, serta potensi kenaikan inflasi yang dapat memengaruhi nilai wajar instrumen investasi.

|Baca juga: Klaim JKN Tembus 108,72%, BPJS Wanti-wanti Ketahanan Dana

|Baca juga: Rogoh Rp201,98 Miliar, OCBC (NISP) Caplok 20% Saham Great Eastern Life Indónesia!

Selain faktor eksternal, tambahnya, strategi alokasi aset masing-masing dana pensiun juga menjadi faktor penting dalam menentukan pencapaian ROI, mengingat setiap dana pensiun memiliki profil liabilitas dan risk appetite yang berbeda.

“Oleh karena itu, industri perlu terus memperkuat manajemen risiko, menjaga prinsip kehati-hatian dalam penempatan investasi, serta melakukan diversifikasi portofolio agar ketahanan dan keberlanjutan hasil investasi tetap terjaga,” pungkasnya.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Bank Indonesia Publikasikan Kurva Imbal Hasil Pasar Uang
Next Post IHSG Berbalik Melemah di Sesi I

Member Login

or