Media Asuransi, GLOBAL – QBE Asia memproyeksikan sejumlah risiko besar akan membayangi industri maritim di Asia sepanjang 2026. Hal itu mulai dari faktor lingkungan, tenaga kerja, teknologi, ekonomi, hingga geopolitik dan rantai pasok.
Mengutip Asia Insurance Review, Selasa, 21 April 2026, dalam laporan bertajuk ‘QBE Marine Insurance Risk Outlook for Asia 2026‘, QBE menyoroti meningkatnya kompleksitas risiko di sektor maritim.
|Baca juga: Prudential Indonesia Andalkan Digitalisasi untuk Percepat Proses Klaim Nasabah
|Baca juga: Permintaan Asuransi Diyakini Naik saat Mudik Lebaran, Begini Kata OJK
Dinamika geopolitik global, ancaman siber, serta intensitas cuaca ekstrem disebut menjadi faktor utama yang memengaruhi operasional dan potensi kerugian pelaku industri.
Laporan itu juga mengulas bagaimana berbagai risiko tersebut dapat berkembang seiring waktu, serta memberikan panduan praktis bagi perusahaan maritim dalam mengelola risiko secara lebih efektif.
|Baca juga: Risiko Gagal Bayar Meningkat, Konflik Timur Tengah Tekan Industri Asuransi Kredit
|Baca juga: Allianz Indonesia: Kenaikan Biaya Medis Jadi Perhatian Besar bagi Masyarakat
QBE menilai, tingkat paparan risiko di industri maritim sangat beragam, tergantung pada jenis operasional masing-masing perusahaan. Perbedaan karakteristik antara kapal kontainer lintas samudra dan kapal dengan operasi regional membuat profil risiko tiap pelaku usaha tidak bisa disamaratakan.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
