1
1

Bos OJK: IIS 2026 Wadah Kolaborasi Dukung Kemajuan Perasuransian Indonesia

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi saat memberi sambutan Indonesia Insurance Summit 2026

Media Asuransi, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai Indonesia Insurance Summit (IIS) 2026 merupakan wadah tepat untuk kolaborasi stake holder guna mendukung kemajuan perasuransian Indonesia. Terutama, untuk menghadapi ketidakpastian yang makin sering terjadi.

|Baca juga: Indonesia Insurance Summit 2026 Kembali Digelar di Yogyakarta-Menghadapi Ketidakpastian Global, Industri Asuransi Perkuat Resiliensi, Kepercayaan, dan Inovasi

“Forum ini telah menjadi wadah penting untuk membuat kolaborasi dan mendukung kemajuan sektor perasurasian Indonesia. Dunia saat ini sedang menghadapi ketidakpastian yang semakin tinggi. Dinamika geopolitik, perubahan iklim, perkembangan teknologi, serta berbagai perubahan struktural lainnya telah mengubah lanskap risiko secara fundamental,” jelas Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, saat memberi kata sambutan melalui video conference pada hari kedua IIS 2026, Jumat, 12 Juni 2026.

Friderica menambahkan, dalam kondisi ini, sektor transparansi memegang peranan yang semakin strategis untuk membuktikan asuransi bukan semata instrumen pengelolaan Risiko. Tetapi bagian dari struktur ekonomi nasional yang mendukung ketahanan masyarakat, keberlangsungan dunia usaha, dan stabilitas perekonomian.

“Indonesia mempunyai peluang yang sangat besar untuk memperkuat peran tersebut dengan jumlah penduduk yang lebih dari 287 juta jiwa, serta kebutuhan pelindungan yang terus meningkat, ruang pertumbuhan sektor asuransi yang masih sangat terbuka,” lanjutnya.

|Baca juga: Ketua Panitia IIS 2026: Asuransi Pegang Peran Strategis di Perekonomian Nasional

Prospek tersebut didukung kinerja industri yang tetap tumbuh positif. Hingga April 2026, total aset industri asuransi mencapai Rp1.202 triliun atau tumbuh 3,39 persen year-on-year. Sementara pendapatan premi mencapai Rp182.5 triliun atau tumbuh 2,11 persen year-on-year.

Menurut Friderica, pertumbuhan ini menunjukkan semakin kuatnya kapasitas industri dalam menjalankan fungsi pengalihan risiko, sekaligus menjadikan sumber pembiayaan jangka panjang untuk perekonomian nasional. Hal tersebut menjadi semakin penting ketika Indonesia menetapkan visi Indonesia Emas 2045, melalui rencana pembangunan jangka panjang nasional 2025-2045.

“Tidak ada negara maju yang dibangun di atas sistem pelindungan risiko yang lemah,” pungkasnya.

Editor: Irdiya Setiawan

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post IHSG Lampaui Level 6.000

Member Login

or