Media Asuransi, JAKARTA – Head of Market Intelligence PT Bank DBS Indonesia Boy Suhendry mengatakan meskipun ekonomi global masih menghadapi berbagai tantangan, namun fundamental Indonesia tetap berada dalam kondisi yang kuat sehingga prospek pertumbuhan jangka menengah masih tetap positif.
“Saat ini Amerika Serikat (AS) masih menunjukkan ketahanan ekonomi yang baik, sementara Asia terus mencatat momentum pertumbuhan yang positif,” kata Boy, dikutip dari keterangan tertulisnya, Selasa, 21 Juli 2026.
Di sisi lain, lanjutnya, China tetap menjadi mitra dagang utama Indonesia dengan neraca perdagangan yang masih mencatatkan surplus. Indonesia, lanjutnya, memiliki sejumlah keunggulan struktural yang menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi.
“Mulai dari sumber daya alam yang melimpah, konsumsi domestik yang kuat, bonus demografi, hingga program hilirisasi yang terus meningkatkan nilai tambah industri nasional,” ujar Boy.
Di saat yang sama, pesatnya investasi global di sektor Artificial Intelligence (AI) juga membuka peluang baru bagi Indonesia sebagai salah satu produsen utama nikel dan mineral strategis yang dibutuhkan dalam rantai pasok industri teknologi masa depan.
|Baca juga: Laba Oona Insurance (ABDA) Naik 21,4% di Kuartal I/2026
|Baca juga: Minat Investor Asing ke Saham Bank Jumbo Mulai Pulih, Mirae Asset: Sinyal Positif bagi Pasar RI
Pertumbuhan investasi AI diperkirakan meningkatkan permintaan terhadap berbagai komoditas strategis Indonesia sehingga menjadi salah satu katalis positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional dalam jangka menengah.
Meski volatilitas pasar masih dipengaruhi perkembangan geopolitik, namun kebijakan fiskal, likuiditas global, serta arah suku bunga, Bank DBS Indonesia menilai visibilitas pasar saat ini jauh lebih baik dibandingkan dengan beberapa bulan sebelumnya.
“Dengan fundamental ekonomi yang tetap kuat, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk terus menarik investasi dan mempertahankan momentum pertumbuhan di tengah perubahan lanskap ekonomi global,” tukasnya.
Founder and Chairman Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal menilai Indonesia memiliki modal geopolitik yang semakin kuat dibandingkan dengan beberapa dekade lalu. “Kita bukan lagi negara dunia ketiga, kita adalah negara G20 dengan pendapatan ekonomi menengah ke atas,” ujarnya.
Ia menambahkan geopolitik Indonesia relatif aman karena rivalitas global saat ini tidak secara langsung mengarah ke Indonesia. Ini merupakan modal penting untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra strategis berbagai negara sekaligus menjaga stabilitas kawasan.
“Namun, modal geopolitik saja tidak cukup, kita tetap membutuhkan langkah-langkah konkret untuk memenangkan kepercayaan pasar dunia,” pungkas Dino.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
