Media Asuransi, JAKARTA – Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufiqurrahman mengungkapkan pertumbuhan ekonomi kuartal I/2026 menjadi sinyal fundamental ekonomi Indonesia masih berada pada jalur yang sehat.
“Mudah-mudahan pada kuartal II pertumbuhan ekonomi masih bisa mencapai 5,4 persen, didukung berbagai stimulus fiskal yang telah diberikan pemerintah,” ujar Rizal, dalam Investortrust Discussion Forum: Membedah Resiliensi dan Kredibilitas Ekonomi-Fiskal, di Habitate Jakarta, Kamis, 9 Juli 2026.
|Baca juga: Bank Jago Luncurkan Rapor Kredit, Debitur Kini Bisa Cek Kesehatan Pinjaman Langsung dari Aplikasi
Menurut Rizal, pemerintah telah mengambil langkah yang tepat melalui paket stimulus senilai Rp26,84 triliun yang digelontorkan selama April-Juni 2026. Stimulus tersebut mencakup bantuan pangan, insentif transportasi, program magang, hingga subsidi sektor manufaktur untuk menjaga konsumsi masyarakat.
|Baca juga: Industri Asuransi Indonesia Diramal Tumbuh Berkelanjutan, Didorong 3 Hal Ini!
|Baca juga: Permata Bank Dorong Generasi Muda Jadi Future Leaders
Meski demikian, Rizal mengingatkan, sejumlah indikator menunjukkan masyarakat masih menghadapi tekanan. Meski Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) masih berada di zona optimistis, namun trennya terus menurun akibat tekanan terhadap kelompok kelas menengah.
|Baca juga: Danamon (BDMN) Komitmen Dukung Pertumbuhan Startup di Indonesia
|Baca juga: Daftar Peserta BPJS Ketenagakerjaan Kini Lebih Mudah Lewat BSI Agen
“Di sisi lain, investor global juga masih bersikap wait and see di tengah perlambatan ekonomi dunia, suku bunga tinggi, serta fluktuasi harga minyak yang memicu kenaikan inflasi,” kata dia.
Fiskal tetap kuat
Wakil Direktur Samuel Sekuritas Suria Dharma menambahkan kondisi fiskal Indonesia masih sangat terjaga. Pendapatan negara APBN semester I/2026 terealisasi Rp1.459,4 triliun atau 46,3 persen dari target, tumbuh 21,4 persen (yoy).
“Capaian tersebut menjadi sinyal positif bagi pasar karena menunjukkan kemampuan pemerintah menjaga kesehatan fiskal di tengah dinamika ekonomi global. Ini perkembangan yang cukup positif bagi pasar,” ujar dia.
View this post on Instagram
Pendapatan dalam realisasi APBN semester I tahun ini terutama ditopang penerimaan perpajakan yang mencapai Rp1.187,8 triliun atau 44,1 persen dari target APBN. Sebelumnya, ia menambahkan, sempat muncul kekhawatiran akibat implementasi sistem Coretax.
“Ternyata dalam dua bulan terakhir kinerjanya cukup bagus. Ini yang membuat pencapaian penerimaan perpajakan menjadi lebih baik,” papar Suria.
|Baca juga: AAJI ‘Spill’ Tantangan Perlindungan Kesehatan untuk Warga RI
Selain pajak, menurut Suria Dharma, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencatatkan kinerja menggembirakan dengan realisasi Rp271 triliun atau 59 persen dari target, meningkat 21,6 persen yoy, kendati pemerintah tidak lagi memperoleh dividen dari BUMN seperti tahun-tahun sebelumnya.
|Baca juga: Banyak Pekerja di RI Lupa Punya Dana Pensiun, DPLK Manulife Ungkap Penyebabnya!
|Baca juga: AAJI Sebut Perusahaan Asuransi Harus Cermat saat Membuat Produk Asuransi Kesehatan
Lebih lanjut, Suria menyoroti penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) yang mencapai Rp315,7 triliun hingga Mei 2026, meningkat 41,3 persen. Hal itu menjadi indikasi aktivitas konsumsi masyarakat masih bergerak positif.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

