Media Asuransi, JAKARTA – Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) membeberkan sejumlah tantangan perlindungan kesehatan saat ini. Hal itu sejalan dengan dampaknya terhadap kinerja asuransi kesehatan di Tanah Air.
Direktur Eksekutif AAJI Emira E. Oepangat menyatakan World Health Organization (WHO) dalam Indonesia moves forward on universal health coverage while addressing remaining gaps (2025) mengungkapkan sekitar 26,6 persen masyarakat Indonesia masih mengalami tantangan pembiayaan akibat pengeluaran kesehatan.
|Baca juga: Liburan Nyaman Tidak Hanya soal Tiket dan Itinerary, Proteksi Juga Penting
|Baca juga: Industri Asuransi Berpeluang Ketiban ‘Durian Runtuh’ Rp1 Triliun Akibat Inflasi Kesehatan
“Out of Pocket (OOP) rata-rata 36 persen atau Rp175 triliun,” kata Emira E. Oepangat Supangat, dalam sebuah diskusi, dikutip Kamis, 9 Juli 2026.
Sebagai informasi, out of pocket adalah istilah untuk pengeluaran biaya pribadi yang dibayar sendiri menggunakan uang tunai atau rekening pribadi di awal, tanpa jaminan atau penggantian langsung dari pihak ketiga seperti perusahaan atau asuransi.
Ia menambahkan laporan health trends 2026 dari Mercer Marsh Benefits mengungkapkan inflasi medis Indonesia mencapai 17,8 persen dan merupakan yang tertinggi di Asia atau jauh di atas inflasi umum yang berada di level 2,5 persen.
View this post on Instagram
Sementara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Pusat Statistik (BPS), lanjutnya, dalam hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 menyatakan indeks literasi sektor perasuransian mencapai 45,45 persen.
“Sedangkan indeks inklusi asuransi baru berada pada tingkat 28,50 persen,” ucapnya.
AAJI mencatat klaim kesehatan pada 2025 mencapai sekitar Rp26,8 triliun atau naik sekitar 9,2 persen dari 2024. Walaupun premi naik lebih tinggi yakni 11,9 persen dari 2024, namun nominalnya masih lebih rendah yakni Rp22,6 triliun, menyebabkan loss ratio di atas 100 persen.
|Baca juga: Bos OJK Sebut Kanal Digital Jadi Pendorong Penting Pertumbuhan Industri Asuransi RI
|Baca juga: Mirae Asset: Faktor Eksternal Menentukan Arah Sentimen Pasar di Semester II/2026
Dirinya menjelaskan tingginya klaim kesehatan tidak lepas dari kenaikan inflasi medis usai pandemi yang disertai dengan tren pelemahan nilai tukar rupiah dan belum adanya standar pelayanan baku yang berlaku untuk Rumah Sakit (RS).
|Baca juga: Bank Mandiri (BMRI) Salurkan KUR Rp17,77 Triliun hingga Mei 2026
|Baca juga: APPARINDO dan DPLK Manulife Gelar Workshop, Ajak Industri Perluas Kepesertaan Dana Pensiun
Terkait rincian klaim kesehatan, ia menjelaskan, perorangan menjadi klaim kesehatan dengan kontribusi terbesar atau sekitar 62 persen terhadap total pada 2025. Klaim kesehatan perorangan mengalami peningkatan sekitar 6,7 persen dari 2024.
“Sementara klaim kesehatan kumpulan meningkat sekitar 13,5 persen,” pungkasnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

