Media Asuransi, JAKARTA – Ketua Dewan Komisioner (DK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi mengatakan stabilitas sektor jasa keuangan nasional masih terjaga di tengah ketidakpastian global yang dipicu oleh dinamika geopolitik.
Kondisi tersebut tercermin dari pertumbuhan intermediasi perbankan, industri asuransi, dana pensiun, hingga perusahaan pembiayaan yang masih menunjukkan kinerja positif.
|Baca juga: KUPASI Sarankan OJK Terapkan New RBC Bertahap untuk Jaga Stabilitas Industri Asuransi
|Baca juga: Sequis Life Dukung Perempuan Wirausaha Tumbuh Lebih Kuat dan Berkelanjutan
Dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah (KNPED) di Jakarta, Senin, 25 Mei 2026, Friderica menyampaikan, meskipun kondisi global masih penuh tantangan, namun perekonomian Indonesia tetap mampu mencatatkan pertumbuhan yang menggembirakan.
“Tentu saja kita semua memahami bagaimana kondisi geopolitik global yang menimbulkan ketidakpastian di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Namun kita melihat bagaimana dengan sangat menggembirakan angka pencapaian pertumbuhan ekonomi kita mencapai 5,61 persen year on year di Q1,” katanya.
“Dan ini juga sesuatu capaian yang luar biasa dan saya yakin ini kontribusi Bapak/Ibu dari pengembangan ekonomi di daerah masing-masing,” tambah Friderica dalam acara tersebut.
|Baca juga: Prudential Terus Pelototi Risiko Hantavirus, Siap Ikuti Arahan Kemenkes!
|Baca juga: Asuransi Ramayana (ASRM) Bagikan Dividen, Ini Jadwal Pembayarannya
Menurutnya, capaian tersebut menjadi momentum yang baik untuk memperkuat peran sektor jasa keuangan sebagai akselerator pertumbuhan ekonomi daerah melalui pembiayaan yang lebih inklusif, produktif, dan tepat sasaran, terutama pada sektor-sektor unggulan berbasis potensi lokal.
View this post on Instagram
Friderica menjelaskan kinerja sektor jasa keuangan hingga saat ini masih menunjukkan kondisi yang solid. Di sektor perbankan, kredit pada Maret 2026 tumbuh 9,49 persen secara tahunan menjadi Rp8.659 triliun. Sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 13,5 persen secara tahunan menjadi Rp10.231 triliun.
Selain perbankan, Friderica menyebut sektor jasa keuangan lainnya juga mengalami pertumbuhan. Premi industri asuransi meningkat, aset dana pensiun tumbuh 6,71 persen, dan piutang perusahaan pembiayaan terus bertambah dengan profil risiko yang tetap terkendali.
“Sektor lain juga tumbuh seperti premi di sektor asuransi tumbuh, aset dana pensiun juga tumbuh 6,71 persen, juga piutang perusahaan pembiayaan juga terus tumbuh dengan profil risiko yang terus terjaga,” katanya.
|Baca juga: IHSG Sempat Anjlok Parah ke Level Terendah, Berikut Bocoran Rekomendasi IPOT untuk Pekan Ini
|Baca juga: DPR Minta OJK Perkuat Perlindungan Konsumen dalam Revisi Aturan Bursa Karbon
Di sisi lain, Friderica mengakui pasar modal Indonesia saat ini masih menghadapi tekanan sehingga indeks harga saham mengalami koreksi. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari reformasi yang tengah dilakukan di sektor pasar modal hingga dinamika global.
Meski demikian, ia menegaskan, investasi di pasar modal dan Indonesia harus dipandang sebagai investasi jangka panjang yang didukung oleh fundamental ekonomi yang kuat. “Namun demikian kita menyampaikan investasi di pasar modal, investasi di negara Indonesia adalah investasi jangka panjang,” ucapnya.
“Karena itu kita harus selalu melihat bagaimana fundamental ekonomi kita ke depan dan bagaimana semua effort yang kita lakukan untuk terus mendukung pembiayaan yang juga selain didukung dari sektor perbankan, juga tentunya didukung oleh sektor-sektor lain terutama juga dari pasar modal,” pungkas Friderica.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

