Media Asuransi, JAKARTA – Alergi susu sapi (ASS) pada bayi tidak hanya menimbulkan reaksi alergi, tetapi juga dapat berdampak pada pemenuhan kebutuhan gizi dan tumbuh kembang anak. Jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini berisiko menghambat pertumbuhan hingga meningkatkan kerentanan terhadap infeksi.
Gangguan pencernaan seperti muntah, diare kronis, dan konstipasi berkepanjangan, dapat menghambat penyerapan nutrisi penting. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berisiko menyebabkan failure to thrive atau gagal tumbuh.
|Baca juga: Mengenal Sindrom Stevens-Johnson (SJS) dan Cara Penanganannya
Selain itu, asupan nutrisi yang tidak optimal dapat memengaruhi perkembangan kognitif, kemampuan motorik, serta daya tahan tubuh bayi. Kekurangan protein, zat besi, dan vitamin tertentu juga dapat membuat bayi lebih rentan mengalami infeksi berulang.
Untuk memastikan diagnosis, pemeriksaan alergi susu sapi perlu dilakukan oleh dokter, khususnya dokter spesialis anak. Pemeriksaan dapat diawali dengan observasi gejala, seperti ruam, muntah, diare, atau sesak setelah bayi mengonsumsi susu sapi.
|Baca juga: Mengenal Penyebab dan Cara Mengatasi Biduran
Dokter juga dapat merekomendasikan diet eliminasi dengan menghentikan konsumsi susu sapi selama 2–4 minggu untuk melihat perubahan gejala. Pemeriksaan lain meliputi tes kulit (skin prick test), tes darah untuk mendeteksi antibodi IgE terhadap protein susu sapi, serta uji provokasi oral melalui pemberian kembali susu di bawah pengawasan medis.
Penanganan alergi susu sapi perlu disertai pengaturan asupan nutrisi yang tepat agar kebutuhan gizi bayi tetap terpenuhi. Dengan diagnosis dan pendampingan dokter, risiko gangguan pertumbuhan dan perkembangan dapat diminimalkan.
Editor: S. Edi Santosa
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
