Media Asuransi, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan di akhir pekan terpantau menguat. Meski demikian, belum ada sentimen positif signifikan yang membuat indeks acuan saham Indonesia kembali melesat mendekati level 6.000.
Mengutip data Stockbit, Jumat, 6 November 2026, IHSG perdagangan sore ditutup di posisi 5.050, menguat 20,17 poin atau setara 0,40 persen dibandingkan dengan pembukaan pagi tadi di 4.955. Level tertinggi IHSG di 5.050 dan terendah di 4.925. Jumlah saham hari ini tercatat 473 juta lembar saham senilai Rp10,32 triliun.
Sementara itu, bursa saham AS anjlok tajam pada perdagangan Kamis waktu setempat (Jumat WIB). Indeks Nasdaq Composite mencatat penurunan harian terbesar dalam 19 bulan dan resmi memasuki fase koreksi setelah kekhawatiran terhadap pengetatan regulasi AI memicu aksi jual saham teknologi dan semikonduktor.
Indeks Nasdaq merosot 5,52 persen; S&P 500 anjlok 4,36 persen; dan Dow Jones Industrial Average melemah 3,44 persen. Kekhawatiran meningkat setelah Partai Demokrat memenangkan pemilihan legislatif AS. Kemenangan itu memicu kekhawatiran pemerintahan dan anggota Kongres baru akan memperketat regulasi pembangunan pusat data.
|Baca juga: OJK Dorong Nasabah Asuransi Ikut Mengawasi Biaya Pengobatan, Ternyata Ini Alasannya
Bursa saham Asia bervariatif pada perdagangan Kamis waktu setempat (Jumat WIB), setelah investor mencermati hasil midterm election AS yang mendorong penguatan Wall Street. Pergerakan pasar juga dipengaruhi oleh rotasi investasi dari saham-saham teknologi berbasis AI, serta kekhawatiran terhadap prospek industri pusat data.
Dari dalam negeri, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Oktober 2026 tetap terjaga sebesar 146,8 miliar dolar AS, relatif stabil dibandingkan dengan posisi pada akhir September 2026 sebesar 146,3 miliar dolar AS.
|Baca juga: OJK Catat 11 Perusahaan Asuransi Masuk Proses Kerja Sama KAPJ, 20 Lainnya Siap Menyusul!
|Baca juga: OJK Dorong Nasabah Asuransi Ikut Mengawasi Biaya Pengobatan, Ternyata Ini Alasannya
Perkembangan posisi cadangan devisa terutama dipengaruhi oleh penarikan pinjaman luar negeri pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa, di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo dan kebijakan stabilisasi rupiah Bank Indonesia sebagai respons terhadap ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi.
Posisi cadangan devisa pada akhir Oktober 2026 setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
