Kalbe Farma (KLBF) Catatkan Kenaikan Laba Bersih 9,0 persen Menjadi Rp2,79 T

Media Asuransi – PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) berhasil mencatatkan laba bersih pemilik entitas induk mencapai Rp2,79 triliun di tahun 2020, naik 9,0 persen dibandingkan Rp2,51 triliun di periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan laba bersih yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan penjualan bersih, terutama disebabkan oleh peningkatan efisiensi di biaya operasional dan tarif pajak yang lebih rendah.

Manajemen Kalbe Farma mengatakan bahwa catatan peningkatan laba bersih perseroan sejalan dengan raihan total penjualan bersih perseroan di sepanjang tahun 2020 yang mencapai Rp23,11 triliun atau meningkat sebesar 2,1 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp22,63 triliun.

“Peningkatan penjualan perseroan dikontribusi oleh pertumbuhan divisi yang menjadi lini bisnis perseroan antara lain Divisi Distribusi & Logistik, Divisi Produk Kesehatan, dan Divisi Nutrisi. Sedangkan penurunan penjualan terjadi hanya pada divisi Divisi Obat Resep,” kata Manajemen Kalbe Farma dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dikutip Media Asuransi, Kamis 1 April 2021.

Baca Juga: 

Peningkatan laba bersih perseroan dikontribusi oleh Divisi Distribusi & Logistik meraih peningkatan penjualan bersih sebesar 5,1 persen dari Rp7,37 triliun menjadi Rp7,75 triliun, serta menyumbang 33,5 persen terhadap total penjualan bersih perseroan. Divisi Produk Kesehatan meraih peningkatan penjualan sebesar 4,7 persen menjadi Rp3,63 triliun dengan kontribusi sebesar 15,7 persen terhadap total penjualan bersih.

Sementara itu, penjualan bersih Divisi Nutrisi tercatat sebesar Rp6,74 triliun di tahun 2020, tumbuh 1,9 persen dari pencapaian di tahun sebelumnya dan menyumbang 29,2 persen dari total penjualan bersih. Sedangkan Divisi Obat Resep membukukan penurunan penjualan sebesar 3,5 persen menjadi Rp4,98 triliun, serta menyumbang 21,6 persen dari total penjualan bersih Kalbe di tahun 2020.

“Dari sisi laba kotor, perseroan berhasil membukukan Rp10,24 triliun di tahun 2020. Sementara, dari sisi rasio laba kotor terhadap penjualan mengalami penurunan menjadi 44,3 persen dari 45,3 persen untuk periode yang sama pada tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh perubahan mix portofolio produk. Sedangkan, pada laba sebelum pajak penghasilan, pada tahun 2020 perseroan berhasil mencatatkan pertumbuhan 6,6 persen menjadi Rp3,63 triliun dengan marjin laba sebelum pajak penghasilan mencapai 15,7 persen, mengalami peningkatan dari 15,0 persen pada periode yang sama pada tahun sebelumnya,” paparnya.

Manajemen mengungkapkan bahwa di masa pandemi Covid-19 ini, perseroan meyakini pentingnya pengelolaan keuangan yang berhati-hati dan seksama, agar dapat secara konsisten mempertahankan posisi keuangan yang kuat. Di akhir tahun 2020, perseroan memiliki kas dan setara kas sebesar Rp5,21 triliun atau naik 71,3 persen di periode yang sama di tahun sebelumnya. Perseroan juga mencatatkan kenaikan total liabilitas dan ekuitas sebesar 11,4 persen menjadi Rp22,56 triliun dari Rp20,26 triliun.

“Melihat pandemi Covid-19 yang akan berlanjut sampai akhir tahun, perseroan menargetkan pertumbuhan penjualan bersih tahun 2021 sebesar 5-6 persen dengan proyeksi pertumbuhan laba bersih sekitar 5–6 persen. Perseroan juga mempertahankan anggaran belanja modal sebesar Rp1,0 triliun yang akan digunakan untuk perluasan kapasitas produksi dan distribusi. Sementara, rasio pembagian dividen dipertahankan pada rasio 45–55 persen, dengan memperhatikan ketersediaan dana dan kebutuhan pendanaan internal,” ungkapnya.

Optimisme Kalbe Farma tumbuh di tahun 2021, mendorong perseroan terus konsisten melakukan aktivitas riset dan pengembangan. Melalui sinergi ABG (Akademisi, Business, dan Government), perseroan terus berkolaborasi menghasilkan produk dan layanan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat (hilirisasi produk) dan mampu memberikan kontribusi pada performa bisnis. Di lain pihak, perseroan membuka kerja sama dengan berbagai pihak, baik dalam bentuk joint-venture, akusisi atau bentuk kerja sama bisnis lainnya.

Selain itu, perseroan juga menggabungkan strategi pengelolaan portofolio produk, mengelola efektivitas kegiatan penjualan dan pemasaran, melakukan transformasi pemanfaatan teknologi digital, serta memonitor biaya-biaya operasional lainnya untuk mempertahankan tingkat laba bersih.

“Sebagai perusahaan kesehatan di Indonesia, untuk meningkatkan kinerja di tahun 2021 perseroan terus menggiatkan inovasi melalui produk dan layanan sebagai bagian dari kontribusi terhadap kesehatan masyarakat Indonesia. Perseroan beradaptasi dengan mengeluarkan produk kesehatan (seperti herbal, suplemen, vitamin dan obat-obatan) dan layanan test serta diagnostik yang berhubungan dengan pandemi Covid-19,” pungkasnya. One