Media Asuransi, JAKARTA – Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) melaporkan kinerja 56 perusahaan asuransi jiwa pada periode Januari – Maret 2026. Di tengah dinamika ekonomi, industri asuransi jiwa mencatatkan pertumbuhan premi bisnis baru sebesar 5,0 persen menjadi Rp27,90 triliun dan jumlah tertanggung sebesar 20,9 persen menjadi 118,28 juta orang.
Fundamental bisnis industri asuransi jiwa tetap menunjukkan ketahanan yang baik di tengah tekanan pasar. Hal ini tercermin dari total pendapatan premi unweighted yang relatif stabil menjadi Rp47,27 triliun. ”Pertumbuhan ini mencerminkan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap perlindungan asuransi jiwa sekaligus kepercayaan yang tetap kuat terhadap industri,’’ kata Ketua Dewan Pengurus AAJI, Albertus Wiroyo, dalam paparan kinerja industri asuransi jiwa kuartal pertama 2026 di Grha AAJI, Selasa 2 Juni 2026.
|Baca juga: AAJI Pede Revisi Aturan Unitlink Dorong Keseimbangan Produk Asuransi
Ia menjelaskan bahwa sepanjang kuartal pertama 2026 industri asuransi jiwa tetap menjalankan perannya sebagai penyedia perlindungan finansial bagi masyarakat. ”Sepanjang Januari hingga Maret 2026, industri asuransi jiwa membukukan total pendapatan keseluruhan sebesar Rp47,63 triliun. Di saat yang sama, industri juga tetap menjalankan komitmennya melalui pembayaran klaim dan manfaat sebesar Rp38,73 triliun kepada masyarakat atau tumbuh 1,5 persen YoY,” ujar Albertus.
Pencapaian tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa industri asuransi jiwa tetap mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan pemenuhan komitmennya kepada para pemegang polis.
Fundamental bisnis industri asuransi jiwa tetap menunjukkan ketahanan yang baik di tengah tekanan pasar. Hal ini tercermin dari total pendapatan premi unweighted yang relatif stabil menjadi Rp47,27 triliun.
|Baca juga: AAJI Gencarkan Literasi Keuangan Sejak Dini Melalui Program InsureTell
Albertus mengatakan, jika dilihat berdasarkan jenis produk, produk asuransi jiwa tradisional masih menjadi kontributor utama terhadap pendapatan premi industri dengan nilai sebesar Rp30,10 triliun. Kondisi ini menunjukkan bahwa masyarakat masih menempatkan kebutuhan perlindungan dasar sebagai prioritas utama dalam perencanaan keuangannya. Sementara itu, produk unit link juga tetap memiliki pangsa yang signifikan sebagai bagian dari pilihan solusi perlindungan yang tersedia bagi masyarakat.
Dari sisi kanal distribusi, industri tetap menunjukkan model distribusi yang beragam dan sehat dalam menjangkau kebutuhan perlindungan masyarakat. Kanal bancassurance masih menjadi kontributor terbesar dengan pendapatan premi sebesar Rp18,54 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa kemitraan antara perusahaan asuransi jiwa dan perbankan masih menjadi model distribusi yang sangat efektif dalam menjangkau masyarakat.
Pada kanal distribusi alternatif membukukan premi sebesar Rp14,44 triliun, yang mana tetap menjadi bagian penting dari diversifikasi distribusi industri. Sementara, kanal keagenan mencatatkan pertumbuhan 1,2 persen menjadi Rp14,29 triliun, menunjukkan bahwa peran tenaga pemasar tetap sangat penting dalam membangun literasi dan menjangkau masyarakat secara langsung.
Editor : Wahyu Widiastuti
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

