Media Asuransi, JAKARTA – Setelah berbulan-bulan berlatih, menuntaskan long run, dan melewati fase peak training, banyak pelari justru mulai ragu ketika race day semakin dekat. Banyak yang bertanya-tanya: apakah latihannya sudah cukup, perlu menambah satu long run lagi, atau kebugaran akan menurun saat jarak latihan dikurangi?
Keraguan tersebut wajar. Namun, tambahan latihan yang tidak terencana dalam dua atau tiga pekan terakhir justru berisiko membuat pelari tiba di garis start dengan kaki lelah, tubuh belum pulih, bahkan mengalami cedera. Karena itu, tapering menjadi bagian penting dari persiapan maraton, yaitu mengurangi beban latihan secara bertahap agar tubuh dapat pulih tanpa kehilangan ritme dan kebugaran yang telah dibangun.
Sebuah systematic review dan meta-analysis pada endurance atlet menunjukkan, tapering hingga 21 hari, dengan penurunan volume latihan sekitar 4-60 persen sambil mempertahankan intensitas dan frekuensi, dapat membantu mengoptimalkan performa. Studi lain terhadap lebih dari 158.000 pelari maraton rekreasional juga menemukan bahwa tapering selama tiga minggu berkaitan dengan median waktu finis lima menit 32 detik atau 2,6 persen lebih cepat dibandingkan tapering minimal.
|Baca juga: Ramai-Ramai Gandrungi Sport Tourism
Temuan ini menegaskan bahwa mengurangi latihan secara disiplin bukan berarti kehilangan kebugaran, melainkan memberi tubuh ruang untuk memaksimalkan hasil latihan saat lomba.
Rangkaian Road to Maybank Marathon bersama adidas Indonesia dan adidas Runners Jakarta, mengajak peserta meningkatkan kemampuan fisik. Selain itu, mereka juga dibekali pemahaman tentang bagaimana mengatur beban latihan, memulihkan tubuh, serta mempersiapkan diri menghadapi race day dengan lebih bijak.
Project Director Maybank Marathon, Bambang Irawan, mengatakan bahwa melalui Road to Maybank Marathon bersama adidas Indonesia, pihaknya mengajak peserta berlatih lebih keras, juga berlatih dengan lebih cerdas.
|Baca juga: Maybank Marathon 2026 Jadi Strategi untuk Dorong Sport Tourism dan Perputaran Ekonomi Bali
Tapering dan pemulihan merupakan bagian penting dari proses tersebut, agar seluruh kerja keras selama latihan benar-benar dapat dibawa ke garis start dalam kondisi terbaik. Inilah semangat Train Smart. Race Safe. Finish Strong. yang terus kami dorong kepada para peserta,” ujar Bambang dalam keterangan resmi.
Sementara itu, Running Coach dari adidas Runners Jakarta, Aditya M. Pamungkas (Coach Dodit) menambahkan bahwa tantangan terbesar saat tapering sering kali bukan datang dari program latihan, melainkan dari rasa khawatir pelari sendiri.
“Ketika mileage turun pada masa tapering, beberapa pelari sering merasa kebugaran akan ikut menurun. Akhirnya sering kali tergoda untuk menambah mileage atau meningkatkan intensitas latihan, misalnya overpacing saat berlari. Padahal, pada tahap ini sudah bukan lagi soal kilometer atau pace yang harus tinggi,” tuturnya.
Dia tambahkan justru pada masa itu, fokusnya adalah mengurangi kelelahan yang tidak perlu, menjaga level performance, memastikan kondisi tubuh dalam keadaan terbaik saat race day. “Tetap berlari dengan volume yang relatif lebih rendah dari biasanya, dan juga terkontrol intensitasnya,” jelas Coach Dodit.
Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan saat memasuki fase tapering.
- Hindari Panic Training
Menjelang race day, pelari sering mulai mempertanyakan apakah latihan yang telah dilakukan sudah cukup. Rasa cemas ini sering kali membuat mereka tergoda untuk menambah jarak, mengejar sesi yang sebelumnya terlewat, atau mencoba membuktikan kesiapan melalui latihan yang terlalu berat.
Pada tahap ini, pelari perlu mempercayai program yang telah dijalankan. Tambahan latihan berat mungkin memberikan rasa percaya diri sesaat, tetapi juga dapat menciptakan kelelahan baru yang terbawa hingga race day.
- Kurangi Volume Latihan, Bukan Berarti Berhenti Berlari
Tapering tidak berarti berhenti berlari sepenuhnya. Pelari masih dapat melakukan easy run, recovery run, atau beberapa repetisi singkat pada race pace sesuai dengan programnya. Tujuannya adalah menjaga tubuh tetap aktif dan mempertahankan sensasi berlari tanpa menambah akumulasi kelelahan.
Tidak ada satu angka penurunan volume yang berlaku untuk semua orang. Pelari maraton berpengalaman, first-time marathoner, dan pelari dengan riwayat cedera dapat membutuhkan pendekatan yang berbeda. Program sebaiknya mengikuti arahan pelatih dan mempertimbangkan respons tubuh masing-masing.
- Anggap recovery sebagai Bagian dari Latihan
Ketika volume latihan berkurang, fokus dapat dialihkan kepada aspek yang sering terabaikan selama peak training, seperti tidur, hidrasi, nutrisi, dan pemulihan otot.
Pelari juga perlu menjaga asupan makan dan cairan secara konsisten. Konsumsi karbohidrat dapat ditingkatkan secara terencana menjelang lomba untuk menjaga ketersediaan energi, tetapi bukan berarti makan secara berlebihan atau mencoba menu yang belum pernah dikonsumsi sebelumnya.
|Baca juga: Siap-siap, Road to Maybank Marathon 2026 Digelar di 6 Kota Ini Selama 16 Pekan!
- Jangan Mencoba Hal Baru Menjelang Lomba
Ada satu prinsip sederhana yang hampir selalu berlaku dalam maraton: Nothing new on race day. Sepatu, pakaian, sarapan, gel, hidrasi, hingga perlengkapan yang dibawa sebaiknya sudah pernah dicoba sebelumnya, idealnya saat long run.
Minggu terakhir bukan waktu untuk mencoba sepatu baru karena terlihat lebih cepat, mengganti gel karena sedang populer, atau menggunakan apparel yang belum pernah dipakai untuk berlari jauh. Semakin sedikit hal baru yang diperkenalkan, semakin kecil kemungkinan munculnya masalah yang tidak terduga saat lomba.
- Persiapkan Mental seperti Persiapan Fisik
Tapering juga dapat memunculkan race anxiety. Ketika waktu latihan berkurang, pelari memiliki lebih banyak ruang untuk memikirkan target waktu, cuaca, kondisi rute, atau kemungkinan mengalami masalah saat lomba.
Persiapan sederhana membantu mengurangi jumlah keputusan yang harus dibuat pada pagi hari lomba. Pelari pun dapat berdiri di garis start dengan mental yang lebih siap.
Pada akhirnya, maraton bukan hanya tentang seberapa keras seseorang mampu berlatih. Maraton juga mengajarkan kapan harus mendorong tubuh dan kapan harus memberinya ruang untuk pulih. Tapering memang tidak bisa menggantikan latihan yang belum dilakukan. Namun, fase ini membantu memastikan bahwa kerja keras selama berbulan-bulan tidak tertutup oleh kelelahan pada hari lomba.
Bambang menuturkan bahwa melalui Road to Maybank Marathon bersama adidas Indonesia, pelari diajak menjalani seluruh proses persiapan dengan lebih cerdas, mulai dari membangun kebugaran, mengelola pemulihan, hingga tiba di garis start dalam kondisi terbaik.
Editor: S. Edi Santosa
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
