1
1

Bos Bank Neo Commerce: Masyarakat Harus Bangun Sistem untuk Cegah Scam

Ilustrasi. | Foto: rawpixel.com/Freepik

Media Asuransi, JAKARTA – Perkembangan teknologi digital memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam berbagai aktivitas, mulai dari berkomunikasi satu sama lain hingga melakukan transaksi keuangan. Namun, kemudahan tersebut juga diikuti dengan meningkatnya risiko kejahatan siber.

Salah satu dari risiko kejahatan siber itu adalah penipuan digital atau scam. Scam tersebut biasanya menyasar masyarakat melalui pesan singkat, media sosial, email, hingga platform digital lainnya.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengungkapkan kerugian akibat spam dan scam di Indonesia telah mencapai sekitar Rp7,5 triliun, berdasarkan laporan Global Anti-Scam Alliance (GASA).

Pemerintah menilai tren tersebut terus meningkat dan mendorong penguatan perlindungan konsumen digital, termasuk melalui penerapan sistem anti-scam di sektor telekomunikasi dan layanan digital.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sejak berdiri pada 22 November 2024 hingga 14 Januari 2026, Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) telah menerima pengaduan penipuan dari konsumen dan masyarakat sebanyak 432.637 aduan dengan total nilai kerugian mencapai Rp9,1 triliun.

|Baca juga: DPR Setujui Sarjito Jadi Bos Pengawas Bursa Mineral, Ini Rekam Jejaknya

Adapun total keseluruhan dana yang berhasil diblokir oleh IASC senilai Rp436,88 miliar. Modus yang digunakan pelaku penipuan digital semakin beragam. Mulai dari mengaku sebagai pihak atau perusahaan tertentu, menawarkan hadiah dan investasi, hingga mengirimkan tautan palsu untuk mencuri data pribadi yang sensitif.

Direktur Utama PT Bank Neo Commerce Tbk Eri Budiono mengatakan pemberantasan scam bukan hanya tentang bagaimana masyarakat merespons ketika penipuan terjadi, tetapi bagaimana membangun sistem yang mampu mencegahnya sejak awal.

|Baca juga: BP BUMN dan Danantara Siapkan Sistem SDM Terintegrasi untuk Seluruh BUMN

|Baca juga: DPR Targetkan RUU Perampasan Aset Rampung di Desember 2026

“Kami memiliki tanggung jawab untuk terus memperkuat teknologi keamanan, meningkatkan kemampuan deteksi transaksi mencurigakan, serta memberikan edukasi agar semakin waspada terhadap berbagai penipuan digital,” katanya, dalam keterangannya, Rabu, 26 Agustus 2026.

|Baca juga: Panas Bumi Makin Ganas, Lansia Jadi Kelompok Paling Terancam!

|Baca juga: Allianz Trade Tunjuk Scott Munafo Jadi CEO China

Kewaspadaan dan kebiasaan digital yang aman menjadi langkah penting untuk mencegah masyarakat menjadi korban penipuan digital. Untuk turut serta secara aktif memberantas scam di tengah-tengah masyarakat, berikut ini merupakan lima langkah sederhana yang dapat diterapkan individu untuk membantu memberantas scam:

1. Lebih berhati-hati dalam mempercayai sesuatu

Pelaku scam kerap menggunakan identitas dan cerita yang menyakinkan untuk membuat korban panik atau tergiur. Kita tidak boleh langsung percaya pada informasi, tawaran, atau permintaan yang datang secara tiba-tiba. Lakukan pengecekan terlebih dahulu sebelum mengambil tindakan penting.

2. Hindari klik tautan sembarangan

Tautan dalam pesan singkat seperti SMS, WhatsApp, email, atau media sosial yang dikirimkan dari pengirim yang mencurigakan, dapat mengarah ke situs palsu yang dirancang untuk mencuri informasi atau data pribadi yang penting.

Hindari membuka tautan yang mencurigakan dan pastikan alamat situs benar-benar berasal dari sumber resmi. Pelaku scam kini semakin cerdik, mereka memanfaatkan kelengahan kita yang sering kali tidak awas dalam melihat secara teliti tautan yang dikirimkan melalui berbagai kanal komunikasi pribadi.

3. Lindungi data rahasia

Data rahasia seperti One Time Password (OTP), kode verifikasi, dan informasi kartu merupakan data yang bersifat pribadi. Jangan pernah memberikannya kepada siapa pun, termasuk pihak yang mengaku sebagai bank, perusahaan, atau layanan resmi.

4. Verifikasi sebelum melakukan transfer

Jika menerima permintaan pembayaran atau transfer yang mencurigakan, jangan terburu-buru untuk melakukan transfer uang. Hubungi pihak yang bersangkutan melalui kontak resmi untuk memastikan permintaan tersebut benar. Langkah sederhana ini dapat mencegah kerugian akibat rekening atau identitas palsu.

5. Laporkan dan blokir akun mencurigakan

Jika menemukan indikasi scam, jangan berhenti pada sekadar mengabaikan pesan. Simpan bukti seperti tangkapan layar, nomor telepon, rekening, atau akun pelaku, kemudian laporkan melalui platform terkait dan kanal resmi yang tersedia. Memblokir akun juga dapat membantu mencegah komunikasi lebih lanjut.

“Kami percaya melawan scam membutuhkan kolaborasi, dan bank tidak dapat bekerja sendiri. Sinergi antara industri perbankan, regulator, aparat penegak hukum, penyedia teknologi, dan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat menjadi kunci untuk mempersempit ruang gerak penipuan,” pungkasnya.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Allianz Trade Tunjuk Scott Munafo Jadi CEO China
Next Post IHSG Melemah Tipis di Sesi I

Member Login

or