Media Asuransi, JAKARTA – Senior Economist DBS Bank Radhika Rao menyebutkan pasar domestik menantikan penunjukan Gubernur Bank Indonesia (BI) yang baru. Kondisi itu terjadi setelah Perry Warjiyo memilih untuk mengakhiri masa jabatannya pekan lalu.
“Prioritas utama Destry Damayanti (yang menjabat sebagai Pejabat Gubernur BI sementara) mencakup pelaksanaan langkah-langkah non-suku bunga yang diperkenalkan pada Juli serta memastikan ketersediaan likuiditas rupiah yang memadai bagi bank-bank domestik,” kata Radhika, dikutip dari laporannya, Kamis, 6 Agustus 2026.
|Baca juga: OJK: Resiliensi dan Likuiditas Pasar Modal RI Terjaga dengan Baik
|Baca juga: OJK Kasih Napas Industri Asuransi, Deadline Laporan PSAK 117 Semester I/2026 Diundur Jadi Agustus!
Secara bersamaan, lanjutnya, Kementerian Keuangan berencana mempertahankan cadangan kasnya di bank-bank milik negara hingga tahun depan guna menopang likuiditas. Sebelumnya, penempatan kas pemerintah telah ditingkatkan menjadi sekitar Rp400 triliun untuk melonggarkan likuiditas dan mendorong pertumbuhan kredit.
“Penurunan harga minyak dan tidak adanya pemicu negatif baru menjaga pergerakan nilai tukar USD/IDR tetap dalam kisaran Rp17.900 hingga Rp18.000 pekan ini, sementara imbal hasil obligasi tenor panjang bertahan stabil di sekitar 7,3 persen, mengikuti tren kenaikan suku bunga AS,” ucapnya.
Ia menambahkan neraca perdagangan barang Juni kembali mencatat defisit untuk bulan kedua berturut-turut, terutama akibat lonjakan impor minyak dan gas sebesar 105 persen (yoy) yang mendorong total impor naik 34 persen (yoy), sementara total ekspor tumbuh 8,8 persen.
|Baca juga: Victoria Alife Soroti Potensi Dampak New RBC terhadap Perusahaan Asuransi Besar
|Baca juga: Robert Budi Hartono Resmi Jadi Pengendali Baru BCA (BBCA), Ini Alasannya!
Defisit perdagangan kuartal kedua tercatat sebesar US$2 miliar, sebuah penurunan tajam dari surplus US$5,5 miliar pada kuartal pertama. Tidak mengherankan, lemahnya transaksi berjalan dan prospek transaksi modal yang lesu pada kuartal tersebut telah menekan nilai tukar hingga mendekati rekor terendah dalam periode itu.
“Sehingga menuntut respons hawkish dari Bank Indonesia,” tukasnya.
Data inflasi di Juli yang dirilis pekan ini menunjukkan perlambatan jadi 2,9 persen secara tahunan (yoy) dari 3,3 persen pada Juni —angka yang berada di bawah perkiraan akibat moderasi harga pada segmen pangan tertentu dan perhiasan emas. Sementara biaya transportasi naik 5,1 persen yoy, laju tercepat dalam tiga tahun terakhir.
|Baca juga: Sequis Life Perkuat Kapasitas Peserta Sequis SHEPRENEUR Lewat Financial Check-Up dan Personal Branding
|Baca juga: DAI Dukung OJK Berantas Broker Ilegal, Industri Diminta Stop Transaksi dengan Pelaku Gelap!
“Kami merevisi turun perkiraan inflasi tahunan menjadi 3,3 persen yoy untuk 2026 dari sebelumnya 3,6 persen karena adanya penundaan penyesuaian harga bahan bakar domestik dan realisasi angka bulanan yang lebih rendah,” tuturnya.
Radhika menjelaskan kombinasi antara pertumbuhan ekonomi dan inflasi, ditambah dengan stabilitas nilai tukar rupiah, menjadi alasan kuat bagi Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga acuannya bulan ini.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
