Media Asuransi, JAKARTA – Gangguan penerbangan yang diakibatkan oleh kebakaran hutan hingga erupsi Gunung Anak Krakatau menjadi salah satu risiko yang dihadapi masyarakat saat bepergian. Kondisi ini dinilai turut pentingnya perlindungan melalui asuransi perjalanan.
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono mengatakan berbagai gangguan selama perjalanan dapat menimbulkan kerugian finansial bagi masyarakat. Karena itu, kebutuhan terhadap asuransi perjalanan masih relevan di tengah meningkatnya mobilitas masyarakat.
“Gangguan penerbangan akibat kebakaran hutan dan lahan, erupsi gunung berapi, maupun kondisi cuaca ekstrem menunjukkan bahwa perjalanan memiliki berbagai risiko yang dapat menimbulkan kerugian finansial bagi masyarakat,” ujar Ogi dalam jawaban tertulis RDKB OJK yang dikutip Rabu, 7 September 2026.
“Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap perlindungan perjalanan tetap relevan,” tambah Ogi.
|Baca juga: Perlindungan yang Dimiliki Harus Jadi Jaring Pengaman Finansial yang Tangguh
|Baca juga: 58 Dana Pensiun Dibubarkan Sejak 2020, OJK Ungkap Penyebabnya!
Menurutnya, prospek asuransi perjalanan masih cukup terbuka hingga akhir 2026. Pertumbuhan tersebut didukung oleh semakin tingginya aktivitas perjalanan masyarakat, baik untuk perjalanan domestik maupun internasional.
Ogi menilai industri perlu membuat produk asuransi perjalanan yang lebih mudah dipahami dan sesuai dengan kebutuhan konsumen. Selain itu, harga yang terjangkau dan akses pembelian yang praktis juga penting untuk memperluas penggunaan produk tersebut.
“Untuk mendorong pertumbuhannya, produk perlu semakin relevan, sederhana, terjangkau, dan mudah diakses oleh masyarakat, termasuk melalui kanal digital,” katanya.
Sebagai informasi, erupsi Gunung Anak Krakatau yang berdampak pada aktivitas penerbangan membuat pemerintah menghentikan sementara operasional di delapan bandara yang berada di wilayah Jawa dan Sumatra.
Delapan bandara tersebut meliputi Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang, Halim Perdanakusuma di Jakarta, Radin Inten II di Lampung, Husein Sastranegara di Bandung, Budiarto di Curug, Pondok Cabe di Tangerang Selatan, Muhammad Taufiq Kiemas di Lampung, serta Atungbusu di Sumatra Selatan.
Gangguan tersebut turut berdampak pada ratusan ribu penumpang. Hingga saat ini, sekitar 341.000 penumpang terdampak akibat pembatalan, penundaan, maupun pengalihan penerbangan. Kondisi itu mencakup 2.339 penerbangan domestik dan 622 penerbangan internasional.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
