1
1

BI Terus Pelototi Gerak Inflasi RI saat Konflik Timur Tengah Kian Membara

Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S. Budiman. | Foto: Bank Indonesia

Media Asuransi, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) terus mewaspadai dampak konflik geopolitik di Timur Tengah terhadap kenaikan harga komoditas global dan inflasi di dalam negeri. Ketidakpastian global yang dipicu perang di kawasan tersebut dinilai berpotensi meningkatkan tekanan harga, terutama dari sisi energi dan pangan.

Deputi Gubernur BI Aida S. Budiman mengatakan konflik geopolitik dan gangguan rantai pasok global telah mendorong kenaikan harga sejumlah komoditas dunia, termasuk minyak mentah dan gas alam cair atau Liquefied Natural Gas (LNG).

|Baca juga: IIS Ungkap Tantangan Baru Asuransi Syariah di Tengah Gejolak Geopolitik Global

|Baca juga: Jelang Iduladha, Berikut Cara Menabung Kurban agar Lebih Tenang

“Penutupan Selat Hormuz, kemudian durasi dampak perang, termasuk juga ketidaklancaran dari rantai pasokan, ini sudah mengakibatkan kenaikan dari harga-harga komoditas,” ujar Aida, dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu, 20 Mei 2026.

Ia menjelaskan harga minyak Brent pada awal pekan ini secara year to date telah mencapai 93 dolar AS per barel dan terus mengalami kenaikan berdasarkan pengamatan BI dalam setiap RDG bulanan.

Selain minyak, kenaikan harga juga terjadi pada LNG yang sebagian besar diproduksi Qatar. Menurut Aida, kondisi tersebut turut berdampak pada kenaikan harga komoditas substitusi lainnya seperti batu bara, Crude Palm Oil (CPO), dan nikel.

“Tidak saja harga minyak, tetapi juga LNG sebagai contoh yang diproduksi oleh Qatar, 18 persen produk global, ini juga mengalami peningkatan termasuk harga-harga lain untuk yang substitusi seperti coal, CPO, nikel, dan lain-lain,” ujarnya.

|Baca juga: Respons OJK saat Hasil Investasi Asuransi Syariah Jadi Negatif Rp121,84 Miliar di Maret 2026

|Baca juga: Bos OJK Wanti-wanti Lonjakan NPL Properti Berpotensi Hantam Kinerja Asuransi Kredit

Aida menuturkan kenaikan harga energi global mulai berdampak pada kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi dan avtur di dalam negeri. Kondisi tersebut mendorong kenaikan administered prices atau harga yang diatur pemerintah.

Meski demikian, BI menilai inflasi inti dan volatile food masih relatif terjaga. BI juga meyakini inflasi Indonesia sepanjang 2026 hingga 2027 tetap berada dalam sasaran bank sentral di level 2,5 plus minus satu persen.

“Karena ketidakpastian ke depan masih tinggi, kita belum tahu dan kita mencoba menghitung skenario-skenario yang terjadi termasuk bagaimana kenaikan dari harga-harga tadi,” ucapnya.

“Makanya dengan kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin, termasuk nanti bauran kebijakan baik dari Bank Indonesia, pemerintah pusat dan daerah, kami memperkirakan inflasi semuanya selama 2026-2027 masih terjaga pada sasarannya 2,5 plus minus satu persen,” pungkas Aida.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Program IVF Jadi Jawaban Penantian 9 Tahun Rifky Alhabsyi & Istri
Next Post HaloAssist Ditargetkan Hadir di 20 RS Hingga Pertengahan 2026

Member Login

or