1
1

Allianz Indonesia: Lonjakan Biaya Medis, Ujian Besar Keberlanjutan Ekosistem Kesehatan

Ilustrasi. | Foto: Allianz Indonesia

Media Asuransi, JAKARTA – Meningkatnya biaya medis menjadi tantangan yang sedang dihadapi seluruh ekosistem kesehatan, mulai dari rumah sakit, perusahaan asuransi, regulator, hingga masyarakat sebagai pengguna layanan.

Kenaikan biaya layanan kesehatan yang melampaui inflasi umum mendorong lonjakan nilai klaim asuransi, memengaruhi premi, sekaligus menguji keberlanjutan sistem pembiayaan kesehatan.

Kondisi ini menuntut kolaborasi seluruh pemangku kepentingan untuk menghadirkan solusi yang mampu menjaga kualitas layanan kesehatan sekaligus memastikan perlindungan asuransi tetap terjangkau dan berkelanjutan.

|Baca juga: Allianz Research: Permintaan Asuransi Kesehatan Melonjak di Tengah Kenaikan Biaya Medis

Menyikapi hal tersebut Head of Product Allianz Life Syariah Indonesia, Rina Triana, menjelaskan bahwa meningkatnya biaya medis merupakan tantangan yang tengah dihadapi oleh seluruh ekosistem kesehatan, termasuk asuransi.

Menurutnya, selain dipengaruhi inflasi dan perkembangan perawatan medis, tekanan terhadap biaya kesehatan juga dipengaruhi oleh dinamika ekonomi makro. ‘’Pelemahan nilai tukar rupiah dapat turut memengaruhi biaya layanan kesehatan, mengingat sebagian komponen obat dan alat kesehatan di Indonesia masih bergantung pada impor,’’ ujar Rina dalam media workshop dengan tema “Menjaga Keberlanjutan Perlindungan Kesehatan di Tengah Kenaikan Biaya Medis”, yang baru-baru ini diadakan oleh Allianz Indonesia.

|Baca juga: Allianz Indonesia Ajak Masyarakat Cegah Penyakit Tropis Secara Berkelanjutan

Rina menjelaskan bahwa sepanjang tahun 2025, Allianz Life dan Allianz Syariah telah membayarkan total klaim dan manfaat sebesar Rp6,3 triliun, dengan Rp3,7 triliun di antaranya merupakan klaim kesehatan.

“Ketika biaya layanan kesehatan terus meningkat, tantangannya bukan hanya menjaga masyarakat dapat memperoleh akses terhadap layanan yang berkualitas saat ini, tetapi juga memastikan perlindungan kesehatan tetap relevan dan dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan dalam jangka panjang,” ujar Rina.

Menurutnya, perlindungan kesehatan perlu dipandang sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang. Penyakit kritis dapat berdampak tidak hanya pada biaya rawat inap, tetapi juga biaya pemulihan, pengobatan lanjutan, serta tindak lanjut medis dalam jangka panjang.

Ke depan, lanjut Rina, tantangannya bukan hanya menghadirkan perlindungan kesehatan yang relevan dengan kebutuhan saat ini, tetapi juga memastikan manfaatnya tetap berkelanjutan di tengah perubahan lanskap kesehatan.

|Baca juga: OJK Sebut Kenaikan Harga Obat Berpotensi Dorong Penyesuaian Premi Asuransi Kesehatan

Berdasarkan data Allianz Indonesia, rata-rata biaya perawatan berbagai penyakit kritis pada periode 2020–2025 meningkat signifikan, seperti biaya perawatan penyakit jantung meningkat hingga 219 persen, kanker 179 persen, dan stroke 169 persen.

Dalam diskusi tersebut, dr. Bayushi Eka Putra, Sp.JP(K), FIHA, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, menjelaskan bahwa penyakit tidak menular masih menjadi salah satu tantangan kesehatan utama di Indonesia.

Salah satunya adalah penyakit jantung yang kini semakin banyak ditemukan pada kelompok usia produktif. Menurutnya, kondisi ini dipengaruhi berbagai faktor risiko, seperti hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, obesitas, kurang aktivitas fisik, tingkat stress tinggi, pola makan tidak sehat, hingga kebiasaan merokok.

Lebih lanjut, dr. Bayushi menekankan bahwa penanganan penyakit jantung membutuhkan biaya tidak sedikit, mulai dari pemeriksaan awal, tindakan medis, penggunaan alat kesehatan, hingga terapi obat-obatan lanjutan.

”Risiko penyakit jantung bukan hanya berdampak pada kondisi kesehatan pasien, tetapi juga dapat memberikan tekanan finansial yang signifikan bagi individu maupun keluarga,” jelasnya.
dr. Bayushi mengatakan, penyakit kritis tidak hanya memengaruhi kondisi kesehatan, tetapi juga dapat berdampak produktivitas, kualitas hidup, dan kondisi finansial yang signifikan. Oleh karena itu, upaya pencegahan, penanganan sejak dini, dan kesiapan perlindungan kesehatan sangat perlu diperhatikan.

Editor : Wahyu Widiastuti

 

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Dana IPO JEC Eye Hospitals Digunakan Untuk Ekspansi dan Modal Kerja
Next Post OJK Catat Aset Industri Asuransi Tembus Rp1.197 Triliun, tapi Pertumbuhan Premi Masih Landai!

Member Login

or