1
1

Konflik Timur Tengah Bayangi RI, Ketua STMA Trisakti Ingatkan Industri Asuransi Waspadai Risiko

Ketua STMA Trisakti Antonius Anton Lie. | Foto: Yayasan Trisakti

Media Asuransi, JAKARTA – Ketegangan geopolitik global yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran mulai berdampak langsung pada perekonomian Indonesia, termasuk industri asuransi.

Ketua STMA Trisakti Antonius Anton Lie mengingatkan konflik tersebut bukan lagi sekadar isu internasional, melainkan variabel ekonomi nyata yang harus diantisipasi secara serius. Anton mengatakan kondisi global saat ini berada dalam ketidakpastian tinggi akibat konflik yang belum jelas ujungnya.

Menurutnya, Indonesia sebagai negara yang bergantung pada stabilitas rantai pasok global dan harga energi kini berada dalam posisi rentan terhadap dampak lanjutan. Ia menegaskan ketegangan geopolitik yang melibatkan AS-Israel melawan Iran bukan sekadar isu berita internasional melainkan variabel ekonomi yang nyata bagi Indonesia.

|Baca juga: Penanganan Asuransi Korban Kecelakaan KRL di Bekasi Diminta Dipermudah

|Baca juga: Prudential Syariah Kantongi APE Rp1 Triliun di 2025

“Sebagai negara dengan ketergantungan pada stabilitas rantai pasok global dan fluktuasi harga energi, kita berada pada titik di mana kewaspadaan adalah sebuah keharusan,” jelas Anton, di Jakarta, Rabu, 29 April 2026.

Ia menambahkan intervensi pemerintah dalam menjaga harga Bahan Bakar Minyak (BBM) tetap terjangkau memang masih berlangsung, namun keberlanjutannya belum dapat dipastikan. Oleh karena itu, kewaspadaan dan langkah antisipatif menjadi penting di tengah eskalasi konflik global.

Dari sisi industri asuransi, Anton menjelaskan, ada sejumlah risiko utama yang perlu diwaspadai. Pertama, volatilitas pasar modal yang dipicu ketidakpastian global berpotensi mengganggu instrumen investasi yang menjadi penopang cadangan teknis perusahaan asuransi, khususnya asuransi jiwa.

Kedua, meningkatnya risiko operasional akibat lonjakan inflasi, termasuk inflasi medis dan biaya reasuransi global, yang dapat menekan profitabilitas perusahaan asuransi di dalam negeri.

|Baca juga: APRDI Ajak Banyak Pihak Gotong-Royong Ciptakan Budaya Investasi di Reksa Dana

|Baca juga: Dari Tidak Diminati Jadi Dilirik, Ini Rahasia India Gaet Investor Reksa Dana

|Baca juga: Allianz Indonesia Dorong UMKM Tumbuh Inklusif dan Berkelanjutan Lewat Program EMPOWERED+

“Alasannya satu, volatilitas pasar modal ya di mana ketidakpastian global langsung berdampak pada instrumen investasi yang menjadi penopang cadangan teknis perusahaan asuransi, khususnya asuransi jiwa pengelola investasi dana orang dari beberapa tahun diinvestasikan,” jelasnya.

Selain itu, risiko perang juga menjadi perhatian penting, terutama terkait potensi kerugian aset dan jiwa yang dalam banyak polis asuransi tidak dijamin. Ia menilai kondisi ini perlu dipahami masyarakat luas, terlebih dengan adanya gangguan distribusi global seperti blokade dan serangan yang mempengaruhi jalur perdagangan.

Tak hanya itu, melemahnya stabilitas makroekonomi juga akan berdampak pada daya beli masyarakat, termasuk menentukan prioritas terhadap perlindungan asuransi. Ia menegaskan industri asuransi tidak boleh hanya menjadi penonton di tengah dinamika global, melainkan aktif merancang strategi mitigasi risiko yang adaptif dan tangguh.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Isu Merger dengan MUFG Menyeruak, Begini Penjelasan Resmi Bank Danamon (BDMN)!
Next Post Danamon Bukukan Pertumbuhan Laba Bersih 35% pada Kuartal I-2026

Member Login

or