Media Asuransi, JAKARTA – Chief Executive Association of Mutual Funds in India (AMFI) Venkat N. Chalasani mengungkap kunci sukses kampanye literasi keuangan di India yang berhasil mengubah perilaku investor ritel secara besar-besaran.
Menurut dia, tantangan utama industri bukan sekadar akses investasi, melainkan cara pandang dan kebiasaan masyarakat dalam berinvestasi. Venkat menjelaskan kondisi India beberapa tahun lalu mirip dengan Indonesia saat ini.
Tingkat tabungan masyarakat sama-sama tinggi, tetapi belum banyak yang masuk ke instrumen keuangan seperti reksa dana. “Jika kita lihat India, tabungan rumah tangga sekitar 28 persen dari PDB,” ujar Venkat dalam acara Peresmian Program Investasi Terencana dan Berkala (PINTAR) Reksa Dana di Jakarta, Senin, 27 April 2026.
|Baca juga: Dharma Satya Nusantara (DSNG) Bukukan Laba Rp421 Miliar di Kuartal I/2026
“Indonesia bahkan lebih tinggi, sekitar 37 persen. Namun sebelum kampanye Mutual Funds Sahi Hai, 90 persen tabungan itu masuk ke tiga instrumen, yaitu properti, emas, dan deposito bank,” tambah Venkat.
Ia menyebut kondisi tersebut terjadi karena dua hal utama, yakni masyarakat cenderung menghindari risiko dan masih rendahnya pemahaman soal keuangan.
“Penyebabnya adalah risk aversion dan kurangnya literasi keuangan. Di India, tingkat melek huruf mencapai lebih dari 85 persen, tetapi literasi keuangan hanya 27 persen. Hal ini membuat masyarakat lebih memilih instrumen yang dianggap aman dan pasti,” jelasnya.
|Baca juga: APRDI Sebut Ruang Tumbuh Reksa Dana Masih Sangat Besar, Ini Alasannya!
|Baca juga: Bos OJK: Pasar Modal Berperan Strategis Dukung Pembiayaan Pembangunan RI
Perubahan mulai terjadi ketika regulator di India turun tangan dan mewajibkan industri untuk aktif mengedukasi masyarakat. Salah satunya melalui kebijakan penggunaan sebagian dana kelolaan untuk program literasi keuangan secara nasional.
Dari situlah lahir kampanye ‘Mutual Funds Sahi Hai‘ yang fokus mengubah cara berpikir masyarakat, bukan sekadar mempromosikan produk. Kampanye ini mendorong masyarakat agar mulai memindahkan tabungan dari aset yang kurang produktif ke instrumen yang lebih memberikan imbal hasil.
Dalam pelaksanaannya, Venkat menekankan cara menyampaikan pesan menjadi kunci utama. Alih-alih menjanjikan keuntungan besar, kampanye justru dibuat sederhana, jujur, dan mudah dipahami.
“Kami tidak pernah mengatakan bahwa ini bukan produk berisiko. Pesan kami sederhana, produk ini sesuai, ‘Sahi Hai’. Kami juga selalu menekankan bahwa investasi di pasar modal memiliki risiko,” tegasnya.
|Baca juga: Investor Asing Rentan Kabur, Airlangga Siapkan Gen Z Jadi Tameng Pasar Modal Indonesia
|Baca juga: Investor Asing Rentan Kabur, Airlangga Siapkan Gen Z Jadi Tameng Pasar Modal Indonesia
Ia menambahkan pesan yang konsisten dan sederhana membuat masyarakat lebih percaya dan mau mulai berinvestasi. Menurutnya, yang terpenting bukan mencari waktu terbaik masuk pasar, tetapi berapa lama investor bertahan dalam investasi tersebut.
Keberhasilan kampanye ini juga didukung oleh empat hal utama, yakni rekam jejak, transparansi, teknologi, dan edukasi yang berkelanjutan. Transparansi menjadi faktor penting, seperti keterbukaan informasi nilai investasi harian hingga isi portofolio, sehingga investor merasa lebih aman.
|Baca juga: Jumlah Investor Tembus 24,74 Juta, OJK Tekankan Pentingnya Literasi agar Tidak Salah Investasi
|Baca juga: Disindir Purbaya, Pendalaman Pasar Modal RI Dinilai Belum Kunjung Terwujud
Lebih lanjut, Venkat mengapresiasi kondisi Indonesia yang dinilai sudah lebih maju dari sisi literasi keuangan. Meski demikian, ia menilai, masih ada peluang besar untuk mendorong masyarakat agar berinvestasi secara lebih produktif.
“Saya cukup terkesan dengan tingkat literasi keuangan Indonesia yang mencapai sekitar 65 persen. Di India baru 27 persen. Tapi perjalanan masih panjang bagi kami,” tutupnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
