1
1

Ada Kecenderungan Sistem Pensiun Terlalu Cepat Mengarahkan Peserta ke Portofolio Konservatif

Ilustrasi. | Foto: Manulife

Media Asuransi, JAKARTA – Arah pembangunan sistem pensiun ke depan perlu bergeser dari sekadar memupuk dana ke fokus pada keberlanjutan penghasilan di masa pensiun. Manulife  menyoroti risiko dari kecenderungan masyarakat atau sistem pensiun yang terlalu cepat mengarahkan peserta ke portofolio konservatif.

Head of Emerging Markets Asia Retirement, Manulife, Elvin Tharm, mengatakan bahwa  pendekatan yang terlalu berhati-hati dalam jangka panjang dapat menimbulkan opportunity cost yang besar. Mengacu pada temuan Manulife yang menunjukkan bahwa dalam tiga dekade terakhir, indeks S&P 500 menghasilkan rata-rata imbal hasil sekitar sembilan persen per tahun, dibanding sekitar empat persen untuk obligasi AS.

Dalam konteks Indonesia, saham dan obligasi dalam 20 tahun terakhir sama-sama mencatatkan imbal hasil rata-rata di atas 10 persen per tahun, jauh lebih tinggi daripada deposito dan instrumen pasar uang yang hanya berkisar 4-5 persen.

|Baca juga: Soroti Kesenjangan Pensiun di Asia, Manulife Dorong Reformasi Sistem untuk Hadapi Masa Pensiun hingga 40 Tahun

Namun demikian, Indonesia masih menghadapi tantangan dalam komposisi alokasi aset dana pensiun. Dengan sekitar 59 persen tenaga kerja berada pada usia produktif 15-44 tahun, sekitar 57 persen aset pensiun justru masih ditempatkan pada instrumen pasar uang, 39 persen di obligasi, dan hanya sekitar empat persen di saham.

Menurut Elvin, kondisi ini dapat menggerus hasil akhir investasi pensiun, khususnya bagi generasi pekerja muda. “Ketika sistem pensiun secara default menempatkan peserta pada portofolio yang terlalu konservatif, terutama di tahap awal masa produktif, efek bunga-berbunga dari imbal hasil yang lebih rendah dapat secara signifikan menggerus hasil akhir investasi,” katanya.

|Baca juga: Manulife Dynamic Wealth Assurance Resmi Meluncur untuk Bantu Nasabah Hadapi Masa Depan

Sebagai ilustrasi, Manulife menyebut seorang peserta program pensiun dengan horizon investasi 30 tahun dan kontribusi rutin Rp1 juta per bulan dapat mengumpulkan sekitar Rp2,6 miliar apabila menggunakan portofolio seimbang saham dan obligasi sesuai siklus usia (glidepath). Sebaliknya, bila seluruh dana sejak awal ditempatkan hanya pada instrumen pasar uang yang sangat konservatif, akumulasi dananya hanya sekitar Rp1 miliar.

Perbandingan tersebut menunjukkan besarnya potensi hasil yang hilang akibat alokasi yang terlalu defensif. Karena itu, diversifikasi lintas kelas aset dan sektor dinilai penting agar risiko tetap terkelola tanpa mengorbankan potensi pertumbuhan jangka panjang.

Selain isu investasi, Manulife juga menekankan pentingnya memperluas partisipasi kelompok yang masih kurang terakomodasi, seperti pekerja gig, pekerja mandiri, dan perempuan. Elvin menyebut inklusi sebagai fondasi ketahanan ekonomi. Menurut Elvin, hambatan struktural harus dikurangi melalui penguatan skema kontribusi sukarela, perluasan cakupan jaminan sosial nasional, serta peningkatan literasi dan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya perencanaan pensiun.

|Baca juga: OJK Beberkan Biang Kerok ROI Dana Pensiun Tergerus di Awal 2026

Dia memberi contoh inisiatif di Malaysia seperti i-Saraan untuk pekerja gig dan i-Suri untuk ibu rumah tangga sebagai model yang menunjukkan bahwa partisipasi bisa didorong melalui skema yang lebih fleksibel dan relevan dengan realitas pola kerja saat ini.

Lebih jauh, Elvin menilai industri dana pensiun juga perlu mengubah cara pandangnya terhadap hasil akhir yang ingin dicapai. Fokus pada besar kecilnya saldo akun semata dinilai tidak lagi memadai untuk menjawab tantangan masa pensiun modern. “Saldo akun yang besar sejatinya hanyalah sarana, bukan tujuan akhir,” ujarnya.

Dia menekankan bahwa tantangan sesungguhnya justru terletak pada kemampuan sistem untuk mengubah tabungan menjadi aliran pendapatan rutin yang tahan terhadap inflasi, volatilitas pasar, serta risiko usia panjang dan biaya kesehatan. Dalam pandangannya, sistem pensiun perlu menyediakan sarana, proyeksi, dan kalkulator yang mampu menerjemahkan tabungan menjadi estimasi pendapatan pensiun agar masyarakat dapat mengambil keputusan yang lebih akurat terkait tingkat kontribusi, anggaran, dan waktu pensiun.

Editor: S. Edi Santosa

 

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Mau Untung atau Buntung? 6 Tips Ini Bisa Selamatkan Kamu dari Investasi Bodong

Member Login

or