1
1

Mirae Asset: Investor Masih Selektif Meski Pertumbuhan Ekonomi RI Lampaui Ekspektasi

Ilustrasi. | Foto: Mirae Asset Sekuritas

Media Asuransi, JAKARTA – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,3 persen secara tahunan (YoY) pada kuartal II/2026 menjadi sinyal positif bagi perekonomian.

Namun, di balik capaian tersebut, investor dinilai masih bersikap selektif karena pasar belum sepenuhnya melihat pertumbuhan tersebut sebagai momentum yang berkelanjutan.

|Baca juga: Bukan Kaleng-kaleng, Tugu Insurance (TUGU) Bakal Garap Proteksi Mega Proyek Migas Blok Masela!

|Baca juga: Tugu Insurance (TUGU) Catat Asuransi Energi Sumbang 30% Premi, Bisnis Migas Masih Menjanjikan!

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan hal tersebut tercermin dari pergerakan pasar saham domestik. Meski IHSG kembali menguat, namun reli pasar dinilai belum sepenuhnya didukung oleh saham-saham berfundamental besar maupun arus masuk investor asing.

“IHSG memang melanjutkan penguatan, tetapi kualitas reli masih terbatas. Kenaikan indeks lebih banyak ditopang saham-saham spekulatif, sementara investor asing masih mencatatkan net sell pada sejumlah saham berkapitalisasi besar seperti TLKM, BBRI, dan ASII,” ujar Rully, dikutip dari keterangannya, Jumat, 7 Agustus 2026.

Menurut Rully, kondisi tersebut menunjukkan pelaku pasar belum sepenuhnya menjadikan data pertumbuhan ekonomi sebagai katalis utama investasi. Hal itu terlihat dari masih tertekannya sejumlah saham berfundamental kuat seperti TLKM, BBRI, BBCA, ASII, dan BMRI, meskipun data PDB Indonesia tercatat lebih baik dari ekspektasi pasar.

|Baca juga: DBS Bank: Pelaku Pasar Menantikan Gubernur BI yang Baru

|Baca juga: Visa Perkuat Posisi Strategis di Industri Global Lewat BTS WORLD TOUR ARIRANG

“Kami melihat pasar saat ini tidak hanya memperhatikan besarnya angka pertumbuhan ekonomi, tetapi mencermati kualitas dan keberlanjutan sumber pertumbuhan. Selama arus dana asing belum kembali dan saham berkapitalisasi besar belum menunjukkan penguatan lebih merata, investor masih cenderung bersikap selektif,” ucapnya.

Selain itu, ia menilai, penguatan rupiah dalam beberapa hari terakhir lebih dipengaruhi faktor eksternal daripada kondisi domestik. Penguatan yen Jepang setelah adanya intervensi terkoordinasi Jepang dan Amerika Serikat menekan penguatan dolar AS sehingga turut mendukung mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

|Baca juga: OJK Bawa Kabar Baik, Kinerja Intermediasi Perbankan Terus Menguat!

|Baca juga: Bank Mega Syariah Catat Pembiayaan Komersial Capai Rp5,9 Triliun hingga Juni 2026

“Kami masih melihat reli IHSG perlu dicermati secara selektif hingga saham-saham berkapitalisasi besar dan arus dana asing menunjukkan perbaikan yang lebih konsisten,” pungkasnya.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post BI: Cadangan Devisa Tetap Terjaga di Juli 2026
Next Post Kuartal III/2026, Pertumbuhan Ekonomi RI Berpotensi Melambat di Bawah 5%

Member Login

or