Media Asuransi, JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada awal tahun didorong oleh konsumsi domestik yang tetap kuat, stimulus fiskal pemerintah, peningkatan belanja negara, serta momentum musiman selama periode hari besar keagamaan.
Konsumsi rumah tangga dan pemerintah tumbuh hingga tujuh persen secara tahunan (yoy), sementara investasi tetap solid di kisaran enam persen yoy. Kondisi ini diharapkan berlanjut dan pertumbuhan ekonomi bisa lebih baik dari waktu ke waktu.
|Baca juga: Bos Allianz Indonesia: Inovasi Produk dan Penguatan Kolaborasi Pemicu Premi Tetap Tumbuh di Kuartal I/2026
|Baca juga: Bos Orion Reasuransi Pede New RBC Jadi Angin Segar bagi Industri Asuransi
Senior Economist DBS Bank Radhika Rao menjelaskan Indonesia memulai 2026 dengan fondasi ekonomi yang positif, namun risiko eksternal membuat proyeksi pertumbuhan tahunan perlu disesuaikan. Menurutnya Indonesia memasuki 2026 dengan percaya diri didukung fundamental yang kuat.
“Namun, proyeksi pertumbuhan setahun penuh tetap perlu disesuaikan menjadi 5,1 persen dari sebelumnya 5,3 persen guna mengantisipasi risiko kenaikan harga energi global dan tekanan pada nilai tukar rupiah,” ujar Radhika, dalam media briefing DBS Group Research, Rabu, 13 Mei 2026.
DBS Research menilai kuartal pertama 2026 kemungkinan menjadi titik tertinggi pertumbuhan ekonomi tahun ini. Ke depan, aktivitas ekonomi juga diperkirakan menghadapi tekanan dari tingginya harga energi global, volatilitas pasar keuangan, serta kebutuhan menjaga disiplin fiskal nasional.
Ia menambahkan stabilitas makroekonomi menjadi fondasi utama dalam menjaga ketahanan ekonomi Indonesia di tengah dinamika global saat ini. Sejalan dengan pemaparan DBS Research, diperlukan pengendalian inflasi, disiplin fiskal, dan komunikasi kebijakan yang konsisten dalam menjaga stabilitas pasar.
|Baca juga: Pemerintah Diminta Waspadai Potensi Penyebaran Hantavirus
|Baca juga: APBN 2027 Harus Perkuat Ketahanan Ekonomi dan Kurangi Ketimpangan Sosial
“Dari sisi pengambil kebijakan, pemerintah diperkirakan tetap berupaya menjaga defisit fiskal di bawah tiga persen terhadap PDB melalui pengendalian belanja, efisiensi program prioritas, serta optimalisasi penerimaan negara,” ucapnya.
Selain itu, lanjutnya, implementasi kebijakan yang konsisten, termasuk pelaksanaan Undang-Undang Cipta Kerja dan harmonisasi regulasi pusat-daerah, dinilai penting untuk menciptakan kepastian usaha dan meningkatkan kepercayaan investor.
|Baca juga: Rupiah Tembus Rp17.500, Bos BI Sebut Ini Biang Keroknya!
|Baca juga: Budi Herawan Dorong MAIPARK Ekspansi Reasuransi Katastropik di ASEAN
Lebih lanjut, ia mengatakan, menjaga stabilitas makroekonomi tetap menjadi faktor kunci dalam menopang pertumbuhan nasional, terutama melalui pengendalian inflasi dan disiplin fiskal yang konsisten.
“Kepastian serta konsistensi regulasi, didukung komunikasi kebijakan yang jelas dan dapat diprediksi, akan menjadi faktor penting dalam menjaga sentimen pasar dan meningkatkan daya tarik investasi,” pungkasnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

