1
1

4 Dampak Doom Spending bagi Finansial dan Kesehatan Mental

Ilustrasi. | Foto: Freepik/cookie_studio

Media Asuransi, JAKARTA – Dampak doom spending dapat memengaruhi kondisi keuangan dan kesehatan mental jika terbiasa berbelanja untuk meredakan stres atau kecemasan. Kebiasaan ini menyenangkan pada awalnya, tetapi pembelian impulsif terus berulang dapat menguras tabungan, menambah utang, dan memicu rasa bersalah.

Dilansir dari VeryWell Mind, doom spending adalah kebiasaan mengeluarkan uang secara impulsif untuk meredakan stres, kecemasan, atau kekhawatiran tentang masa depan.

Istilah ini menggambarkan perilaku berbelanja yang digunakan sebagai pelarian dari tekanan hidup, termasuk ketidakpastian ekonomi dan situasi sosial yang membuat seseorang merasa sulit mengendalikan keadaan.

|Baca juga: Pemimpin dalam Islam Dituntut Adil dan Amanah, Ini Ancaman bagi Pemimpin yang Zalim

|Baca juga: Tak Harus Selalu Mengalah, Ini Cara Menetapkan Batasan di Tempat Kerja

Doom spending yang tidak bisa dikendalikan dapat menimbulkan berbagai masalah yang saling berkaitan, baik untuk kesehatan finansial maupun mental. Melansir Allianz Indonesia, Minggu, 25 Oktober 2026, berikut beberapa dampak yang perlu diperhatikan:

1. Tabungan dan tujuan keuangan terganggu

Pengeluaran impulsif dapat mengurangi dana yang seharusnya dialokasikan untuk kebutuhan penting dan tujuan jangka panjang. Akibatnya, rencana membeli rumah, mempersiapkan dana pensiun, atau membangun tabungan darurat bisa tertunda.

2. Utang semakin menumpuk

Penggunaan kartu kredit atau layanan beli sekarang, bayar nanti untuk memenuhi keinginan dapat meningkatkan beban cicilan. Jika pengeluaran melebihi kemampuan finansial dan tagihan tidak dibayar sesuai ketentuan, bunga dan biaya tambahan berpotensi memperburuk kondisi keuangan.

3. Kecemasan dan rasa bersalah meningkat

Belanja mungkin memberikan kesenangan sesaat, tetapi perasaan tersebut dapat berubah menjadi penyesalan setelah kamu menyadari jumlah uang yang telah dikeluarkan. Jika kondisi keuangan terus memburuk, tekanan tersebut juga dapat mengganggu kualitas tidur, konsentrasi, dan keseharian.

4. Terjebak dalam siklus belanja emosional

Doom spending dapat membentuk siklus yang sulit dihentikan. Stres mendorong seseorang berbelanja untuk merasa lebih baik. Setelah itu, pengeluaran berlebihan menimbulkan masalah keuangan yang memicu stres kembali.

Jika belanja terus dijadikan cara utama untuk menghadapi emosi, siklus tersebut berpotensi berulang dan semakin sulit dikendalikan. Untuk menghindari dampak tersebut, kamu perlu memahami penyebab seseorang melakukannya, serta cara mengendalikan kebiasaan ini.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Perlindungan Asuransi dan Keselamatan Karyawan Jadi Perhatian Cimol Bojot AA

Member Login

or