Media Asuransi, JAKARTA – Head of Research & Consulting CBRE Indonesia Anton Sitorus menilai industri properti sekarang ini berada pada fase transisi atau inflection point. Artinya, belum ada pendorong besar untuk membuat pasar properti Tanah Air mengalami lonjakan signifikan usai pandemi covid-19.
“Jadi inflection point itu adalah kondisi transisi. Kita tahulah dalam berapa tahun terakhir sejak pandemi ini pasar properti mungkin ya kayak begini. Belum terlalu ada big trigger, big wow gitu di market,” kata Anton, dalam Media Briefing CBRE Indonesia, di Jakarta, Rabu, 6 Mei 2026.
|Baca juga: Boeing dan ITB Luncurkan Program Inovasi Kedirgantaraan di Indonesia
|Baca juga: CBRE Indonesia: Pasar Properti Jakarta Memasuki Fase Pertumbuhan yang Lebih Berkelanjutan
Meski demikian, kondisi itu membuat ia meyakini bahwa karakteristik industri properti di Indonesia sudah lebih matang. “Tapi di sisi lain kita merasakan bahwa itu mungkin adalah karakteristik dari kondisi pasar yang lebih more mature,” ucapnya.
Selain itu, ia menambahkan, industri properti berada di fase from cyclical recovery to structural growth. “Jadi yang tadinya kita penuh dengan siklus-siklus, naik turun naik turun yang cukup pendek waktunya menjadi ke suatu pertumbuhan yang lebih gradual, yang lebih struktural,” tegasnya.
Dirinya menilai hal tersebut yang membuat pengembang sampai sekarang ini belum terlalu berani melakukan ekspansi signifikan, termasuk pembeli atau konsumen juga belum signifikan melakukan pembelian properti.
“Kalau dulu ketika kondisi booming, ekonomi bagus, orang yang nggak perlu beli properti saja beli properti. Untuk investasi, ngomongnya begitu. Nah sekarang orang yang punya duit untuk beli properti kan mesti mikir-mikir,” ucapnya.
|Baca juga: Diduga Beroperasi Tanpa Izin, 6 Entitas Pialang Asuransi dan Reasuransi Dipelototi OJK
|Baca juga: Kuartal I/2026, Pasar Properti Tunjukkan Ketahanan di Tengah Berbagai Tekanan
Anton menambahkan dulu jika ada yang membeli properti maka spekulasinya terbilang tinggi. Sedangkan saat ini, pembelian properti biasanya langsung kepada pembeli sebenarnya atau end-user.
“Pertumbuhan itu lebih didorong atau didominasi penyerapan. Jadi bukan lagi spekulasi. Kalau dulu tuh memang kita melihat khususnya kayak residential itu spekulasinya tinggi. Bagaimana orang beli rumah, beli apartemen tuh untuk spekulasi. Kita tahu ada spekulan, ada end-user,” ucapnya.
“Kalau dulu mungkin dominasi spekulasi banyak, tapi sekarang adalah end-user. Jadi hampir di semua proyek penjualan itu penyerapannya adalah oleh end-user. Jadi dengan demikian, ketika pengembang membuat satu proyek, itu mereka bisa lebih mengukur gitu, jadi lebih predictable,” pungkasnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
