Media Asuransi, JAKARTA – Aktivitas pasar modal Indonesia menunjukkan geliat yang kuat, tercermin dari panjangnya antrean aksi korporasi yang masih menunggu restu regulator. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat sebanyak 71 rencana penawaran umum masih berada dalam pipeline perizinan hingga akhir April 2026.
“Ada 71 rencana penawaran umum yang berada dalam pipeline perizinan di OJK,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi, dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner OJK secara daring, Selasa, 5 Mei 2026.
Seiring dengan itu, peran pasar modal sebagai sumber pendanaan jangka panjang terus menguat. Hingga April 2026 secara tahun berjalan (ytd), nilai penghimpunan dana atau fundraising telah mencapai Rp56,35 triliun.
|Baca juga: Jumlah Investor Naik Saja Tidak Cukup untuk Pendalaman, OJK Soroti Kualitas Pasar
|Baca juga: DAI Blak-blakan Ungkap Peluang Besar Asuransi Swasta di Transportasi Publik
Di sisi lain, data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan terdapat 15 perusahaan yang berada dalam pipeline pencatatan saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) hingga 30 April 2026. Mayoritas berasal dari perusahaan dengan skala aset besar.
Mengacu pada POJK Nomor 53/POJK.04/2017, sebanyak 11 perusahaan memiliki aset di atas Rp250 miliar, sementara empat lainnya tergolong perusahaan dengan aset menengah, yakni antara Rp50 miliar hingga Rp250 miliar. Selain penawaran umum, kanal pendanaan alternatif melalui Securities Crowdfunding (SCF) juga terus berkembang.
“Total nilai dana yang dihimpun melalui SCF telah mencapai Rp 1,93 triliun,” ujarnya.
|Baca juga: Asuransi Jasa Tania (ASJT) Tebar Dividen Rp1,34 Miliar, Simak Jadwal dan Ketentuannya!
|Baca juga: UUS MSIG Life Resmi Spin Off, Semua Portofolio Dialihkan ke PAS
Aktivitas di instrumen lain juga menunjukkan perkembangan. Pada pasar derivatif keuangan, volume transaksi secara akumulatif tercatat mencapai 143.217 lot. Sementara pada bursa karbon, jumlah pengguna jasa yang terdaftar mencapai 155 pihak.
Secara agregat hingga April 2026, volume transaksi bursa karbon tercatat sebesar 1,98 juta ton setara karbon dioksida (CO2 equivalent), dengan total nilai transaksi mencapai Rp93,75 miliar. Dengan berbagai capaian itu, pasar modal domestik tetap menjadi salah satu pilar penting dalam mendukung pembiayaan korporasi di tengah dinamika ekonomi.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
