1
1

Kenali Abdominal Migrain, Nyeri Perut Sering Dialami Anak

Seorang wanita sedang menderita GERD. | Foto: Allianz Indonesia

Media Asuransi, JAKARTA – Tahukah Anda kalau migrain tidak hanya terjadi di kepala tapi juga terjadi di bagian tubuh lainnya, yaitu perut. Penyakit yang disebut abdominal migrain atau migrain perut merupakan kondisi yang ditandai dengan nyeri berulang di bagian tengah perut atau sekitar pusar. Berbeda dengan migrain pada umumnya yang menyebabkan sakit kepala, gangguan ini dapat menimbulkan nyeri perut sedang hingga berat, disertai mual dan muntah.

|Baca juga: Allianz Bagikan Tips Pertolongan Pertama Saat Kena Serangan Jantung, Wajib Diketahui!

Kondisi ini paling sering dialami anak berusia 5–9 tahun, terutama anak perempuan, meskipun dapat terjadi pada orang dewasa. Berdasarkan laman Halodoc.com yang dikutip Sabtu, 31 Oktober 2026, kondisi ini diduga berkaitan dengan perubahan zat kimia dalam tubuh, seperti histamin dan serotonin, serta hubungan antara sistem pencernaan dan otak. Faktor stres dan keturunan juga dapat berperan dalam meningkatkan risikonya.

Gejala abdominal migrain biasanya muncul tiba-tiba dan dapat berlangsung selama 1–72 jam. Gejala yang perlu dikenali meliputi nyeri sedang hingga berat di bagian tengah perut atau sekitar pusar. lalu mual dan muntah, wajah tampak pucat atau kemerahan, tubuh lemas dan kehilangan nafsu makan serta muncul lingkaran gelap atau kantung di bawah mata.

|Baca juga: 3 Cara Menghindari Bahaya Kabut Asap dan Melindungi Pernapasan

Serangan dapat berulang dalam beberapa minggu atau bulan dengan pola gejala yang relatif sama. Pemicu dan tingkat keparahannya dapat berbeda pada setiap orang. Penanganan abdominal migrain bertujuan meredakan gejala sekaligus mencegah kekambuhan. Beberapa metode yang dapat dilakukan meliputi:

Terapi nonfarmakologis

Penanganan dilakukan dengan mengenali dan menghindari pemicu, memperbaiki pola makan, serta mengelola stres. Terapi perilaku kognitif, psikoterapi, terapi keluarga, dan yoga juga dapat dipertimbangkan sesuai kebutuhan.

Penggunaan obat-obatan

Dokter dapat meresepkan obat pereda nyeri, seperti NSAID atau acetaminophen, obat golongan triptan untuk kondisi tertentu, serta obat antimual. Penggunaan obat harus disesuaikan dengan usia dan kondisi pasien berdasarkan rekomendasi dokter.

Perubahan gaya hidup

Beberapa kebiasaan yang dapat membantu mengurangi risiko kekambuhan antara lain, tidur cukup dan teratur, minum air putih yang cukup, mengonsumsi makanan bergizi secara teratur. Selain itu rutin melakukan aktivitas fisik sesuai kemampuan, mengelola stres dengan baik dan beristirahat di ruangan yang tenang dan minim cahaya saat serangan terjadi.

Editor: Irdiya Setiawan 

 

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Tugu Insurance (TUGU) Perkuat Dukungan bagi Sektor Energi Melalui Asuransi Energi Offshore
Next Post Periklindo Sebut Kendaraan Listrik Bisa Kurangi Subsidi BBM

Member Login

or