Media Asuransi, JAKARTA – Pasar saham regional Asia melemah secara serentak di tengah meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar. PT Eastspring Investments Indonesia menengarai, Kondisi ini dipicu oleh belum adanya kemajuan dalam pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran, serta berlanjutnya penutupan Selat Hormuz yang mendorong harga minyak naik lebih tinggi.
Kenaikan harga minyak membayangi prospek pertumbuhan ekonomi global, dengan harga minyak Brent naik sekitar dua persen ke level US$104 per barel. Di sisi lain, kontrak berjangka untuk S&P 500 dan Nasdaq 100 masing-masing turun sekitar 0,6 persen, mencerminkan kehati-hatian investor terhadap dinamika geopolitik yang masih berkembang.
|Baca juga: Eastspring Indonesia Tawarkan 7 Reksa Dana Melalui Bahana Sekuritas
Ketegangan antara AS dan Iran sendiri masih berlanjut, kedua pihak terlibat dalam upaya penguasaan Selat Hormuz setelah gagal mencapai kesepakatan untuk melanjutkan pembicaraan damai. Kedua negara tersebut saling berupaya meningkatkan posisi tawar dalam situasi gencatan senjata yang berkepanjangan.
Eastspring Investments Indonesia melalui Spring Flash yang dikutip Jumat, 24 April 2026, disebutkan bahwa sejalan dengan pelemahan bursa regional Asia, pasar saham Indonesia juga bergerak turun di tengah sentimen negatif dari Timur Tengah. Saham DSSA dan BREN kembali mengalami tekanan, seiring keduanya masuk dalam daftar konsentrasi kepemilikan tinggi yang dirilis oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).
|Baca juga: Dana Kelolaan Eastspring Indonesia Melejit Menjadi Rp72,9 Triliun
Hal ini turut memunculkan potensi penyesuaian dalam indeks MSCI, sebagai bagian dari kerangka baru terkait konsentrasi kepemilikan saham. Minimnya katalis domestik membuat pasar saham Indonesia cenderung bergerak mengikuti arah sentimen global. IHSG ditutup turun -2,16 persen atau -163,01 poin ke level 7.378,61, terutama tertekan oleh saham DSSA (-10,36 persen), BREN (-8,70 persen), BBRI (-2,47 persen), TLKM (-4,00 persen), dan ASII (-4,17 persen).
|Baca juga: Eastspring Investments Indonesia: Moody’s Effect Dorong Sikap Hati-hati Investor
Tekanan juga terlihat di pasar valuta asing. Rupiah melemah cukup signifikan, menjadi yang terdalam dalam tujuh bulan terakhir, seiring kenaikan harga minyak yang turut menekan sentimen. Rupiah turun -0,61 persen menjadi Rp17.286 per dolar AS. Bank Indonesia menegaskan akan terus meningkatkan intensitas intervensi guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Di tengah kondisi pasar yang masih cenderung belum sepenuhnya stabil, pergerakan harian kemungkinan akan tetap diwarnai oleh berbagai noise yang dapat memicu peningkatan volatilitas dalam jangka pendek. Meski demikian, dinamika yang ada menunjukkan bahwa puncak volatilitas kemungkinan telah terlewati dan tekanan kepanikan di pasar mulai mereda.
Mengingat tingkat ketidakpastian global yang masih tinggi, pendekatan investasi yang disiplin tetap menjadi kunci. Akumulasi investasi bertahap dan horizon investasi yang lebih panjang menjadi kunci dalam menavigasi kondisi pasar saat ini.
Di pasar obligasi, level yield yang kembali naik tahun ini menawarkan entry point yang lebih menarik. Sementara di pasar saham, valuasi yang telah terkoreksi cukup dalam membuka peluang masuk di harga yang lebih atraktif.
Editor: S. Edi Santosa
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
