Media Asuransi, JAKARTA – Asia tetap menjadi magnet utama investasi asing global pada 2025, dengan total arus PMA di Asia Timur mencapai sekitar US$245 miliar. Sementara Asia Tenggara mencatat kenaikan dari sekitar US$225 miliar pada 2024 menjadi hampir US$250 miliar pada 2025.
Data ini menunjukkan Asia Tenggara menjadi salah satu kawasan dengan pertumbuhan PMA tercepat di dunia, didorong oleh relokasi rantai pasok global, ekspansi sektor manufaktur, dan meningkatnya minat investor internasional terhadap pasar ASEAN.
Di tengah kondisi pasar yang volatil dan ketidakpastian geopolitik global, Bank DBS Indonesia memberikan berbagai insights dan perspektif strategis yang membantu perusahaan multinasional mengambil keputusan ekspansi ke Indonesia dengan lebih yakin melalui forum The Indonesia Equation: Risks, Returns and the Road to 2027.
Acara tersebut dihadiri oleh Deputi Bidang Pengembangan Iklim dan Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Riyatno; para analis ahli DBS Group Research, serta sejumlah perwakilan dari perusahaan multinasional.
Senior Economist DBS Group Research Radhika Rao menyebutkan perkembangan ekonomi global yang semakin multipolar membuka peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya sebagai pusat pertumbuhan baru, seiring dengan semakin terdiversifikasinya investasi, manufaktur, dan rantai pasok global.
“Keunggulan Indonesia ke depan tidak hanya terletak pada sumber daya alam dan ukuran pasar, tetapi juga kemampuannya menarik investasi berbasis teknologi, memperkuat rantai nilai domestik, mengembangkan ekonomi digital, serta menjaga stabilitas kebijakan dan makroekonomi,” ujarnya, Kamis, 10 September 2026.
|Baca juga: LPS Usulkan Polis Asuransi Dijamin Maksimal Rp500 Juta, Ini Alasannya!
Arah suku bunga AS dan kondisi pasar global dipastikan juga memengaruhi arus modal, nilai tukar rupiah, serta pendanaan Indonesia menuju 2027 sehingga perusahaan multinasional perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap biaya modal dan perencanaan keuangan.
Deputi Bidang Pengembangan Iklim dan Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Riyatno menambahkan realisasi investasi di Indonesia tetap menunjukkan tren positif yang dibuktikan dengan capaian semester pertama 2026 hampir 50 persen dari target pertumbuhan 7,2 persen YoY.
“Di tengah dinamika global dan persaingan yang semakin intensif, potensi investasi di Indonesia masih sangat besar dengan resiliensi ekonomi yang cukup baik,” ujarnya.
|Baca juga: Adhi Karya (ADHI) Beberkan Kinerja dan Strategi Bisnis di Public Expose Live 2026
Karena itu, lanjutnya, kementerian terus berkomitmen untuk menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif dengan layanan investasi end-to-end, mulai dari peta jalan sektor investasi, reformasi regulasi, hingga streamlining perizinan perusahaan dengan aplikasi OSS Versi 2 yang kini lebih canggih didukung AI dan blockchain.
“Sehingga semakin terintegrasi untuk memastikan proses investasi yang lebih efisien,” kata Riyatno.
Di sisi lain, Indonesia berada pada posisi yang sangat strategis untuk menarik investasi dalam jumlah besar, didukung oleh kombinasi faktor pendorong dari sisi penawaran maupun permintaan. Namun demikian, persaingan antarnegara di kawasan untuk menarik investasi semakin ketat.
Oleh karena itu, penguatan infrastruktur fisik seperti energi, transportasi, dan logistik, serta infrastruktur nonfisik seperti regulasi, kualitas sumber daya manusia, dan kemudahan berusaha, menjadi faktor penting untuk menarik sekaligus mempertahankan minat investor.
Hal ini, ditambah dengan kombinasi faktor makroekonomi, regulasi dan geopolitik yang terus berkembang, menentukan langkah strategis perusahaan multinasional untuk memperluas, memperdalam atau meninjau ulang eksposur bisnis mereka.
Pilihan ini sangat bergantung pada sektor, strategi, dan tingkat toleransi risiko masing-masing perusahaan, serta sejauh mana mereka mampu mengelola pembiayaan, risiko, resiliensi sekaligus efisiensi operasional secara bersamaan.
Keunggulan Indonesia sebagai destinasi investasi ke depan tidak hanya terletak pada skala pasar dan potensi pertumbuhannya, tetapi juga pada daya saing biaya, ketersediaan tenaga kerja, serta kematangan ekosistem industrinya.
Pada saat yang sama, perusahaan multinasional semakin menaruh perhatian pada kepastian regulasi, kecepatan perizinan, efisiensi operasional, serta stabilitas kebijakan ekonomi dan nilai tukar.
Penguatan faktor-faktor tersebut akan menjadi kunci bagi Indonesia untuk meningkatkan daya tarik investasinya dan mempertahankan posisinya sebagai salah satu tujuan utama investasi di kawasan menjelang 2027.
Head of Large & Multinational Corporates Institutional Banking Group Bank DBS Indonesia Natalia Ratulangi mengatakan kebutuhan perusahaan multinasional semakin beragam, tidak hanya sekadar pembiayaan tapi juga kebutuhan untuk mengatasi dampak gejolak suku bunga, nilai tukar, kebijakan regulasi dan sentimen lokal ekonomi.
“Jadi diperlukan mitra perbankan yang juga bisa memberikan insights tajam untuk menavigasi tren pasar lokal, baik secara global maupun sektoral. Sehingga diperlukan mitra yang mampu menyediakan banking solution yang komprehensif dan kompetitif di lintas kawasan,” tukasnya.
Selaras dengan kebijakan regulator, Bank DBS Indonesia mendukung langkah-langkah yang dapat memperluas investasi asing serta penguatan ekosistem investasi yang lebih terintegrasi. Komitmen ini juga sejalan dengan peran Bank DBS Indonesia sebagai mitra strategis perusahaan multinasional.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
