1
1

Inilah 3 Faktor Pendorong Pelemahan Rupiah

Senior Portfolio Manager-Fixed Income MAMI, Syuhada Arief. | Foto: MAMI

Media Asuransi, JAKARTA – PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) menilai ada tiga tekanan yang membuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus melemah pada saat ini. Tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh faktor kondisi geopolitik, persepsi investor terhadap kebijakan ekonomi domestik, serta faktor musiman dari permintaan dolar AS domestik yang tinggi di kuartal kedua.

Senior Portfolio Manager-Fixed Income MAMI, Syuhada Arief, menyampaikan bahwa untuk meredam pelemahan rupiah ini, BI melakukan intervensi di pasar valuta asing dan menaikkan imbal hasil SRBI untuk menjaga stabilitas rupiah.

|Baca juga: Bos BI Pede Rupiah Bisa Kembali Menguat, Ini Alasannya!

Imbal hasil rata-rata dalam lelang SRBI 12-bulan meningkat signifikan dari kisaran 4,9 persen di awal tahun ke 6,5 persen di awal Mei, yang sukses menarik dana asing sehingga terdapat net inflow Rp78 triliun per April 2026. Selain itu, untuk membantu nilai tukar rupiah, BI meningkatkan Repo Rate menjadi 5,1 persen.

Di sisi lain, cadangan devisa tergerus karena usaha BI menjaga stabilitas rupiah, turun dari US$156.47 miliar di akhir Desember 2025 menjadi US$146.20 miliar per akhir April.  Secara historis, kondisi penurunan cadangan devisa signifikan dapat memberi tekanan bagi Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga.

“Oleh karena itu, di tengah gejolak geopolitik dan tekanan kepada rupiah yang masih tinggi, ruang penurunan suku bunga menjadi lebih terbatas,” kata Syuhada dalam keterangan resmi, Selasa, 19 Mei 2026.

|Baca juga: Rupiah Terus Melemah, BI Disebut Belum Serius Perhatikan Faktor Psikologis dan Kepanikan Publik

Lebih lanjut dia jelaskan bahwa MAMI melihat terdapat ‘trade-off’ yang harus dipilih pemerintah dalam merespons lonjakan harga minyak dunia saat ini, yakni antara menjaga daya beli masyarakat atau menjaga stabilitas fiskal dan rupiah.

Kebijakan yang pro-pertumbuhan, seperti mempertahankan harga BBM bersubsidi dan menaikkan subsidi energi, dipandang positif untuk menjaga daya beli masyarakat, walau akan meningkatkan beban APBN dan menekan rupiah karena persepsi investor terhadap stabilitas keuangan negara yang melemah. Sebaliknya, penyesuaian harga energi dapat memukul daya beli masyarakat, walau dapat meningkatkan kredibilitas APBN dan mendukung Rupiah.

“Keduanya merupakan pilihan yang sulit karena harus ada yang ‘dikorbankan’ dan pemerintah harus mencari keseimbangan antara kedua faktor ini. Pandangan kami, pemerintah akan mempertahankan kebijakan pro-pertumbuhan saat ini dengan asumsi konflik Timur Tengah tidak terjadi berkepanjangan. Namun rekalibrasi kebijakan dapat dilakukan apabila konflik terus terjadi dan harga energi persisten di level tinggi,” jelas Syuhada.

Editor: S. Edi Santosa

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Bos OJK Bawa Kabar Baik tentang Kinerja Unitlink, Begini Lengkapnya!
Next Post LPS Perkuat Internal Jelang Pelaksanaan Program Penjaminan Polis Asuransi

Member Login

or