Media Asuransi, JAKARTA – Allianz Life Indonesia optimistis mampu mempertahankan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan di 2026. Keyakinan itu muncul meski sejumlah tantangan tengah menghadang Tanah Air dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat premi asuransi jiwa di awal 2026 mengalami kontraksi.
“Meskipun ada tantangan-tantangan seperti inflasi medis, faktor ini terus mendorong kebutuhan proteksi jiwa yang lebih relevan di kalangan masyarakat,” kata Direktur & Country Chief Financial Officer Allianz Life Indonesia Gert de Rijke, kepada Media Asuransi, dikutip Selasa, 19 Mei 2026.
|Baca juga: BFI Finance (BFIN) Klarifikasi soal Berita Penarikan Paksa Mobil di Tangerang Selatan
|Baca juga: Allianz Indonesia Sebut Kehati-hatian Jadi Kunci Investasi di Tengah Realitas Baru 2026
Tidak ditampik, persoalan yang menghadang industri asuransi jiwa seperti inflasi medis membuat tekanan terhadap kinerja premi asuransi jiwa. Akan tetapi, ia menegaskan, perusahaan tetap optimistis dapat mempertahankan pertumbuhan yang berkelanjutan.
“Kami memperkuat portofolio produk dengan menawarkan beragam produk yang sesuai dengan kebutuhan nasabah yang beragam, serta digitalisasi proses untuk memastikan customer journey yang efisien dan mudah diakses,” ucapnya.
|Baca juga: Bos OJK Minta Industri Asuransi Perkuat Permodalan dan Manajemen Risiko, Kenapa?
|Baca juga: Penerapan PSAK 117 Direlaksasi, OJK: Kesiapan Teknologi Informasi dan Kapasitas SDM Jadi Tantangan
Mengutip data OJK, aset industri asuransi pada Maret 2026 mencapai Rp1.195,75 triliun atau naik 4,38 persen secara tahun ke tahun (yoy) dari posisi yang sama di tahun sebelumnya, yaitu Rp1.145,63 triliun. Dari sisi asuransi komersil, total aset mencapai Rp977,53 triliun atau naik 5,64 persen yoy.
Kinerja asuransi komersil berupa akumulasi pendapatan premi pada periode Maret 2026 mencapai Rp88,36 triliun, atau tumbuh 0,74 persen yoy, terdiri dari premi asuransi jiwa yang turun 0,14 persen yoy dengan nilai Rp47,12 triliun, dan premi asuransi umum dan reasuransi yang tumbuh 1,77 persen yoy dengan nilai Rp41,24 triliun.
|Baca juga: Rupiah Tembus Rp17.600 per Dolar AS, DPR Sentil BI
|Baca juga: Rupiah Ambruk, Legislator Blak-blakan Minta Gubernur BI Mengundurkan Diri
Industri asuransi jiwa serta asuransi umum dan reasuransi secara agregat mencatatkan Risk Based Capital (RBC) masing-masing sebesar 474,26 persen dan 316,32 persen (di atas threshold sebesar 120 persen).
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

