Media Asuransi, JAKARTA – Anggota Komisi XI DPR RI Andreas Eddy Susetyo mengkritik Bank Indonesia (BI) yang dinilai terlalu fokus pada pendekatan fundamental ekonomi dalam menghadapi pelemahan rupiah.
Menurutnya, BI belum serius memperhatikan faktor psikologis dan kepanikan publik yang dinilai ikut memperburuk tekanan terhadap nilai tukar. Andreas menilai berbagai kebijakan yang telah disiapkan BI untuk menjaga rupiah belum menyentuh persoalan utama di masyarakat, yakni soal persepsi dan sentimen pasar.
|Baca juga: BFI Finance (BFIN) Klarifikasi soal Berita Penarikan Paksa Mobil di Tangerang Selatan
|Baca juga: Allianz Indonesia Sebut Kehati-hatian Jadi Kunci Investasi di Tengah Realitas Baru 2026
“Saya sampai merenung, Pak Gub berkali-kali mengatakan rupiah kita ini undervalued, bahkan terakhir juga disampaikan mengenai tujuh kebijakan yang telah dilakukan dan akan dilakukan untuk menahan laju penurunan dolar AS terhadap rupiah ini,” kata Andreas, dalam rapat kerja Komisi XI DPR RI bersama BI di Jakarta, Senin, 18 Mei 2026.
Menurut Andreas, pelemahan rupiah saat ini tidak bisa hanya dilihat dari sisi angka ekonomi semata. Ia mencontohkan maraknya masyarakat yang menukarkan dolar Amerika Serikat secara besar-besaran sebagai tanda adanya tekanan psikologis di pasar.
Padahal, sentimen publik disebut bisa mempercepat tekanan terhadap rupiah apabila tidak ditangani secara tepat. Selain mengkritik kebijakan moneter, Andreas juga menyoroti sistem penilaian kinerja Bank Indonesia yang dinilai terlalu rumit dan sulit dipahami publik.
|Baca juga: Bos OJK Minta Industri Asuransi Perkuat Permodalan dan Manajemen Risiko, Kenapa?
|Baca juga: Penerapan PSAK 117 Direlaksasi, OJK: Kesiapan Teknologi Informasi dan Kapasitas SDM Jadi Tantangan
Ia mengatakan indikator kinerja utama atau IKU BI terlalu banyak dan belum menunjukkan hubungan langsung dengan tugas utama BI menjaga stabilitas rupiah. Menurut dia, laporan pertanggungjawaban BI seharusnya bisa memperlihatkan langkah mitigasi yang jelas ketika kondisi ekonomi sedang berat.
Andreas meminta BI menyederhanakan parameter penilaian agar lebih fokus pada indikator utama seperti inflasi, suku bunga, dan nilai tukar. “Karena kalau saya membaca ini yang disampaikan, saya masih agak kesulitan merelasikan antara result, proses, konteks, dan seterusnya dengan pencapaian IKU,” tuturnya.
“Kalau IKU-nya kan luar biasa, tetapi bagaimana menghubungkan IKU ini dengan tugas utama Bank Indonesia? Tugas Bank Indonesia kan menjaga nilai tukar,” tambah Andreas.
|Baca juga: Rupiah Tembus Rp17.600 per Dolar AS, DPR Sentil BI
|Baca juga: Rupiah Ambruk, Legislator Blak-blakan Minta Gubernur BI Mengundurkan Diri
Lebih lanjut, ia menilai, komunikasi publik terkait kondisi rupiah masih perlu diperkuat. Menurut Andreas, masyarakat perlu diberikan pemahaman pergerakan nilai tukar tidak hanya dipengaruhi kondisi fundamental ekonomi, tetapi juga sentimen pasar dan persepsi publik.
Di sisi lain, Andreas turut mengingatkan ancaman capital outflow atau arus modal asing keluar dari Indonesia pada akhir Mei 2026 yang diperkirakan cukup besar. Karena itu, ia meminta, BI dan pemerintah menyiapkan langkah antisipasi agar tekanan terhadap pasar keuangan tidak semakin dalam.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

