1
1

Mirae Asset Sekuritas Soroti Tekanan Pasar dan Peluang di Sektor Offshore Marine

Mirae Asset Sekuritas Indonesia adalah perusahaan sekuritas yang berpusat di Jakarta, dan berdiri sejak 1994. Foto: Mirae Asset Sekuritas

Media Asuransi, JAKARTA – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia melihat pasar saham domestik masih menghadapi tekanan dari sentimen eksternal yang kembali menguji risk appetite investor.

Di tengah kondisi tersebut, investor perlu mencermati perkembangan likuiditas, arus dana asing, serta peluang di sektor-sektor yang memiliki fundamental dan prospek pertumbuhan yang kuat.

Head of Research and Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan IHSG turun 0,88 persen ke level 6.385 dan kembali berada di bawah level 6.400 setelah sempat mengalami tekanan intraday.

Investor asing juga mencatat net sell di pasar reguler mencapai Rp503 miliar, sehingga akumulasi net sell dalam enam hari terakhir mencapai Rp3,4 triliun. “Tekanan tetap terkonsentrasi pada large caps, dengan BMRI, ANTM, BBCA, dan TLKM mencatat net sell terbesar kemarin,” ujar Rully, dalam keterangannya, Selasa, 22 September 2026.

Menurut Rully, tekanan eksternal masih menjadi faktor utama yang memengaruhi risk appetite investor. Rupiah melemah ke Rp17.847 per dolar AS, sementara suku bunga global tetap tinggi setelah kenaikan suku bunga The Fed. Kondisi tersebut membuat ruang kebijakan moneter domestik tetap perlu diperhatikan.

Menjelang RDG BI, Rully menambahkan, fokus pasar bukan hanya pada BI-Rate, tetapi juga pada kemampuan BI menjaga stabilitas rupiah tanpa memperketat likuiditas domestik secara berlebihan.

“Kami memperkirakan BI-Rate tetap 5,75 persen. Untuk IHSG, stabilisasi foreign flows khususnya kembalinya demand pada liquid large caps akan menjadi kunci bagi indeks untuk kembali ke atas 6.400,” jelas Rully.

Di tengah pasar yang masih selektif, sektor offshore marine berpeluang mendapat manfaat dari meningkatnya kebutuhan kapal pendukung eksplorasi dan produksi migas. Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Wilbert Arifin menilai proyek deepwater Indonesia berpotensi mendorong kekurangan kapal DP2.

|Baca juga: Ekonom Permata Bank Ramal BI-Rate Tetap 5,75% di September 2026

|Baca juga: Capital Market Run 2026 Kembali Digelar, Target 4.000 Peserta

Kondisi itu seiring kenaikan upstream capex dan penerapan TKDN. Adapun Indonesia masih membutuhkan tambahan armada kapal DP2 seiring meningkatnya aktivitas offshore. Proyek Strategis Nasional (PSN) migas Indonesia merupakan proyek deepwater yang kini masuk tahap konstruksi.

“IDD dan North Hub milik Eni saja membutuhkan lima hingga tujuh Platform Supply Vessel (PSV) dengan Dynamic Positioning Class 2 (DP2), dan kami memperkirakan permintaan DP2 PSV domestik akan naik sekitar dua kali lipat dalam tiga tahun,” ujar Wilbert.

Kebutuhan tersebut juga didukung tender-tender baru, dengan WINS sebagai salah satu pemilik OSV terbesar di Indonesia dan armada DP2 terbesar ke-3 di APAC. Hampir setiap tender PSN mensyaratkan kapal DP2.

Dari sisi kinerja, EPS WINS diperkirakan naik 74 persen CAGR menjadi Rp286 pada FY29F, didukung kenaikan utilisasi dan DCR yang diperkirakan meningkat 18 persen CAGR dari USD8,400 menjadi USD13,800 per hari.

“Prospek jangka pendek lebih lemah. Laba bersih FY26E kami untuk WINS mencapai Rp224 miliar, sebelum meningkat kembali di FY27F dan melonjak 3,5 kali pada FY28F,” pungkas Wilbert.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Ekonom Bilang BI-Rate Berpeluang Naik Jadi 6% Jika Tekanan Eksternal Meningkat
Next Post IHSG Turun Dalam di Akhir Perdagangan Selasa

Member Login

or