1
1

Rupiah Tidak Berkutik, Begini Penjelasan BI

Kompleks Perkantoran Bank Indonesia, Jakarta. | Foto: Bank Indonesia

Media Asuransi, JAKARTA – Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI) Erwin Gunawan Hutapea menyebutkan pelemahan nilai tukar rupiah masih dipengaruhi oleh kekhawatiran tensi geopolitik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak tetap tinggi di atas US$100 per barel.

“Sehingga meningkatkan risiko inflasi global dan tekanan pada outlook fiskal. Tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir serta arus keluar dana dari portofolio aset domestik,” kata Erwin, dikutip dari pernyataan resminya, Selasa, 22 September 2026.

Ia menambahkan BI akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai fundamentalnya, melalui pengelolaan struktur suku bunga di pasar uang dengan penguatan strategi operasi moneter pro-market, serta memperkuat efektivitas stabilisasi nilai tukar.

“Dan kecukupan likuiditas melalui transaksi underlying untuk swap lindung nilai dengan perolehan insentif,” jelasnya.

|Baca juga: AASI Pede Pasar Asuransi Syariah Bakal Makin Besar

|Baca juga: OJK Wanti-wanti Risiko Kredit Bank dan BPR Imbas El Nino

Dirinya menjelaskan intervensi akan terus dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar terus dilakukan secara intensif, antara lain untuk mendorong arus masuk modal asing dengan mengoptimalkan insentif yang telah diberikan, serta mendiversifikasi permintaan valas melalui skema Local Currency Transaction (LCT).

“⁠Secara umum, pergerakan rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan (regional), dengan penguatan secara quarter-to-date sebesar 0,37 persen. Posisi cadangan devisa juga meningkat ke level US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026,” pungkasnya.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Bank Saqu 10K Warnai Race Day Garmin Run 2026
Next Post NPL UMKM Naik, OJK Wanti-wanti Risiko Klaim Industri Penjaminan

Member Login

or