Media Asuransi, JAKARTA – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia melihat momentum pasar saham domestik mulai membaik di tengah perhatian investor terhadap arah kebijakan fiskal pemerintah dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027.
IHSG menguat 1,7 persen ke level 6.502, sementara rupiah menguat ke sekitar Rp17.746 per dolar AS, memberikan dukungan tambahan terhadap sentimen domestik.
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan kualitas reli IHSG juga mulai membaik karena kenaikan indeks tidak lagi terkonsentrasi pada satu saham. Saham AMMN dan BRMS menjadi penopang utama seiring kuatnya harga emas, sementara BBCA dan BBRI turut mendorong indeks.
“Momentum IHSG membaik, tetapi kenaikan global yields, volatilitas yen, dan potensi unwind carry trade tetap menjadi risiko eksternal utama,” ujar Rully, dalam keterangan resminya, Jumat, 21 Agustus 2026.
Harga emas bertahan di sekitar US$4.500 per troy ounce, ditopang prospek penurunan real yields, meskipun risiko inflasi dari kenaikan harga minyak masih tinggi. Di sisi lain, intervensi yen mendorong investor Jepang kembali meningkatkan aktivitas carry trade dan pembelian aset luar negeri.
|Baca juga: Citi Indonesia Cetak Laba Rp994 Miliar, DPK Tumbuh 23% di Semester I/2026
|Baca juga: Destry Maju Jadi Gubernur BI, Ini Pesan Bos Citi untuk Kebijakan Bank Sentral
Di tengah kondisi pasar tersebut, Mirae Asset Sekuritas menilai RAPBN 2027 menandai pergeseran strategi fiskal pemerintah dari ekspansi program menuju optimalisasi anggaran.
Dengan ruang fiskal yang lebih terukur, tantangan pemerintah ke depan adalah memastikan setiap rupiah anggaran dapat memberikan dampak yang lebih optimal terhadap pertumbuhan ekonomi. Pemerintah menargetkan defisit fiskal menyempit menjadi Rp671,2 triliun atau 2,4 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Kondisi itu seiring pendapatan negara yang diproyeksikan tumbuh 8,6 persen secara tahunan menjadi Rp3.426 triliun, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan belanja sebesar 6,6 persen menjadi Rp4.097,2 triliun. Di sisi lain, pemerintah tetap menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar enam persen pada 2027.
Fixed Income Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Jessica Tasijawa mengatakan tantangan fiskal 2027 akan bergeser dari peningkatan kapasitas menuju efektivitas belanja. Hal ini tercermin dari rata-rata pertumbuhan anggaran 10 kementerian/lembaga (K/L) terbesar.
Pertumbuhan itu diperkirakan berbalik menjadi kontraksi 1,4 persen pada 2027, dari pertumbuhan 38,5 persen pada 2026, sementara belanja pegawai turun 34,8 persen. “2027 bukan lagi soal meningkatkan belanja, tetapi bagaimana setiap rupiah dapat bekerja lebih keras untuk menghasilkan pertumbuhan yang lebih tinggi,” ujar Jessica.
Dari sisi penerimaan, penerimaan perpajakan ditargetkan Rp2.908 triliun, dengan PPh diproyeksikan tumbuh 9,9 persen dan PPN/PPnBM sebesar 13,4 persen. Coretax, peningkatan kepatuhan pajak, dan aktivitas domestik akan menjadi motor utama penerimaan, sehingga pemerintah tidak perlu terlalu bergantung pada commodity windfall.
Di sisi belanja dan pembiayaan, efisiensi program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi membuka ruang realokasi ke transfer daerah dan program dengan multiplier ekonomi lebih tinggi. Anggaran BGN pada 2027 turun 10,4 persen menjadi Rp240,2 triliun, sementara Mirae Asset memperkirakan realisasi MBG pada 2026 sekitar Rp168–192 triliun.
Sementara itu, kebutuhan refinancing pemerintah masih cukup besar dengan jatuh tempo SBN sekitar Rp878 triliun, meski inflow perusahaan asuransi dan dana pensiun sekitar Rp143 triliun dapat menjadi penyangga imbal hasil ditengah potensi tambahan pasokan SBN.
Mirae Asset Sekuritas memperkirakan yield SBN tenor 10 tahun berada di kisaran 7,2–7,5 persen pada 2027. Kebutuhan penerbitan yang masih besar serta risiko rupiah dan geopolitik membatasi ruang penurunan yield.
Namun apabila stabilitas rupiah memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk kembali menurunkan suku bunga, yield SBN 10 tahun berpotensi turun menuju kisaran 6,6–6,9 persen.
“Cerita pasar 2027 akan bertumpu pada efektivitas fiskal dalam menjaga pertumbuhan dan stabilitas rupiah dalam Bank Indonesia untuk menentukan arah kebijakannya,” tutup Jessica.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

