Media Asuransi, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir melemah di akhir perdagangan Senin, 24 Agustus 2026. IHSG terkoreksi 0,37 persen atau 24,02 poin ke level 6.501,67 pada penutupan perdagangan Senin.
|Baca juga: Investasi Syariah di Pasar Modal Indonesia melalui SR025
Di awal sesi, indeks saham justru dibuka hijau ke 6.544 hingga menyentuh level tertinggi di 6.551. Sepanjang perdagangan hari ini, 276 saham menguat, 384 saham melemah, dan 303 saham lainnya stagnan. Transaksi perdagangan menyentuh Rp14,05 triliun, dengan volume 35,56 miliar saham
Indeks masih dalam tren penguatan karena sejumlah indikator makroekonomi membaik. Sentimen positif dari pasar domestik antara lain Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang membaik, kendati masih defisit US$0,9 miliar di kuartal II/2026. Angka ini jauh lebih kecil dari defisit kuartal I/2026 yang sebesar US$9,1 miliar.
|Baca juga: Calon Pengawas Bursa Mineral Sarjito Dorong Indonesia Jadi Penentu Harga di Pasar Komoditas
Sentimen positif juga datang dari data Bank Indonesia yang mencatat posisi M2 (peredaran uang beredar dalam arti luas) pada Juli 2026 sebesar Rp10.371,1 triliun atau tumbuh sebesar 8,3 persen (year on year/yoy). Ini melanjutkan pertumbuhan pada Juni 2026 sebesar 8,7 persen (yoy).
Selan itu, arus modal asing masuk deras ke pasar obligasi pemerintah. Laman Bloomberg, Senin (24/8) melaporkan, bahwa pengelola dana global membukukan pembelian bersih US$656,7 juta (Rp10,7 triliun) surat utang Indonesia hingga Kamis lalu, terbesar sejak Juli 2019. Dengan tambahan tersebut, total pembelian bersih asing sepanjang Agustus mencapai US$931,74 juta, sehingga obligasi Indonesia berpeluang mencatat arus masuk selama tiga bulan berturut-turut.
|Baca juga: Ada Aksi Profit Taking, IHSG Berbalik Melemah ke 6.480
Lonjakan arus dana asing tersebut mencerminkan membaiknya sentimen investor setelah berbagai langkah BI untuk menarik dana asing, diperkuat intervensi di pasar valuta asing, sehingga mendorong rupiah. Rupiah telah menguat 1,8 persen sepanjang Agustus, menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terbaik di Asia setelah sebelumnya tertekan pada awal tahun.
Editor: Irdiya Setiawan
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

