Surya Esa Perkasa Kerja Sama dengan Japan Oil, Mitsubishi, dan ITB Kembangkan Amonia Biru

Media Asuransi – PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA) melalui anak usaha, PT Panca Amara Utama (PAU) menandatangani MoU tentang pengumpulan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon (Carbon Capture, Utilization & Storage /CCUS) bersama dengan Japan Oil, Gas and Metals National Corporation (JOGMEC), Mitsubishi Corporation (MC), dan Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk mengembangkan produksi Amonia rendah karbon atau dikenal sebagai amonia biru di Indonesia.

Presiden Direktur & Chief Executive Officer ESSA, Vinod Laroya, mengatakan bahwa anak usaha ESSA yaitu PT Panca Amara Utama (PAU), yang terletak di Luwuk, Banggai, Sulawesi Tengah ini merupakan pabrik amonia pertama di dunia yang menggunakan teknologi terbaru dan paling efisien pemakaian bahan bakarnya bernama KBR Reforming Exchanger System (KRES) dan Purifier Technology. Perseroan berupaya memanfaatkan basis operasionalnya yang kokoh untuk membangun generasi produk berikutnya, khususnya amonia biru.

“Pada 18 Maret 2021, ESSA melalui PAU menegaskan komitmen kami dalam menciptakan masa depan berkelanjutan sambil memperluas jangkauan pasar amonia saat ini, dengan menandatangani kerja sama dengan Japan Oil, Gas and Metals National Corporation (JOGMEC), Mitsubishi Corporation (MC), dan Institut Teknologi Bandung (ITB),” kata Vinod dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta, Senin, 22 maret 2021.

Baca Juga:

Menurut Vinod, langkah perusahaan yang bergerak di sektor energi dan kimia melalui kilang LPG (liquefied petroleum gas) dan produksi amonia, diambil menilik dari tingginya permintaan amonia akibat keterbatasan pasokan. Selain itu, melihat potensi kenaikan yang signifikan untuk mengembangkan amonia biru pada fasilitas produksi amonia ESSA sebagai alternatif energi rendah-karbon untuk masa depan.

“Amonia banyak digunakan sebagai bahan baku pembuatan pupuk, plastik, dan bahan kimia di seluruh dunia. Namun tingginya permintaan amonia saat ini belum mempertimbangkan peran amonia sebagai bahan bakar masa depan karena kandungan hidrogennya yang masih tinggi, nol emisi CO2 pada saat pembakaran, serta pengiriman logistik yang dapat diandalkan,” katanya.

Diakui Vinod, harga amonia mengalami penurunan secara signifikan akibat dampak Covid-19 yang mengakibatkan terjadi perlambatan di tahun 2020. Namun demikian, pasar amonia relatif mampu bertahan terhadap pandemi. “Kenaikan kembali harga amonia secara tajam sejak Januari 2021 yang didorong oleh masalah hambatan pasokan serta karena memasuki masa awal pemulihan permintaan membuat perseroan mengambil langkah strategis agar dapat mendongkrak kinerja perseroan di masa depan,” harapnya.

Sementara itu, dari sisi kinerja keuangan, berdasar laporan keuangan konsolidasi audit per 31 Desember 2020, ESSA berhasil membukukan pendapatan sebesar US$175,5 juta pada tahun 2020, atau turun sebesar 21 persen dibandingkan pada tahun 2019 sebesar US$221,9 juta. ESSA juga mencatatkan rugi bersih pada tahun 2020 sebesar US$33,6 juta.

Kendati terjadi pelemahan harga serta penurunan produksi amonia di tahun 2020 akibat Covid-19 dan masalah terkait lainnya, ESSA berhasil mempertahankan kinerja operasionalnya pada tahun 2020 di tengah kondisi global yang kurang kondusif dengan mencatatkan produksi LPG sebesar 61.448 MT (-17,9% dari 74.871 MT di 2019), produksi kondensat sebesar 139.961 barel (-15,1% dari 164.948 barel di 2019), dan produksi amonia sebesar 659.734 MT (-13,9% dari 766.988 MT di 2019).

 “Ke depan, ESSA akan terus meningkatkan kinerjanya seiring dengan pemulihan harga dan permintaan di pasar global. Dengan rekam jejak produksi yang kuat, budaya karyawan dan tim manajemen yang telah mampu melalui tahun 2020 yang sulit, kami siap untuk terus menciptakan pertumbuhan di masa mendatang,” tutur Vinod. One