1
1

Asuransi Makin Pilih-pilih Lindungi Proyek Energi Terbarukan di Asia, Ini Alasannya!

Ilustrasi. | Foto: Kindel Media via Pexels

Media Asuransi, GLOBAL – Perusahaan asuransi di Asia kini semakin berhati-hati dalam memberikan perlindungan untuk proyek energi terbarukan. Namun, proyek yang dirancang dengan baik dan memiliki pengelolaan risiko yang jelas masih berpeluang mendapatkan perlindungan asuransi dengan biaya yang kompetitif.

Head of Renewable Energy Asia WTW Sam Liu mengatakan proyek yang memiliki data yang terbuka, desain yang matang, serta rencana yang jelas untuk mengantisipasi berbagai risiko akan lebih mudah mendapatkan perlindungan asuransi dengan syarat yang lebih baik pada 2026.

“Proyek yang mendapatkan syarat asuransi terbaik pada 2026 adalah proyek yang memiliki data transparan, desain teknis yang kuat, rencana antisipasi keterlambatan yang realistis, serta koordinasi yang baik antara kontrak pengadaan dan strategi manajemen risiko,” ujar Liu, dilansir dari Insurance Asia, Senin, 20 Juli 2026.

WTW mencatat Asia akan menyumbang sekitar 74,2 persen penambahan kapasitas energi terbarukan global pada 2025 atau mencapai 513,3 gigawatt. Pertumbuhan itu berasal dari pembangunan pembangkit listrik tenaga surya, angin, hidro, sistem penyimpanan baterai, hingga pembangkit surya terapung.

|Baca juga: Kantongi Dana SAL Rp38 Triliun, Bos BTN (BBTN) Bilang Pengembalian Bertahap Sedang Disiapkan

|Baca juga: Indika (INDY) Buka Suara soal Rumor Divestasi Kideco, Ini Penjelasannya!

Di balik pesatnya pertumbuhan tersebut, risiko proyek juga ikut meningkat. Perusahaan asuransi kini lebih mencermati potensi cuaca ekstrem, gangguan rantai pasok, hingga perubahan kebijakan pemerintah yang bisa menghambat penyelesaian proyek.

Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah kebijakan China menghentikan insentif pengembalian pajak ekspor untuk produk panel surya mulai April 2026. Kebijakan serupa untuk produk baterai juga akan diterapkan pada 2027. Langkah ini diperkirakan mendorong kenaikan harga komponen energi terbarukan di pasar global.

Kondisi tersebut membuat pengembang proyek menghadapi risiko biaya yang lebih besar apabila pengiriman komponen terlambat. Karena itu, perusahaan asuransi kini memberi perhatian lebih pada perlindungan terhadap risiko keterlambatan proyek atau delay in start up.

Kondisi itu termasuk memastikan masa kompensasi cukup untuk menutup potensi kerugian. Meski perusahaan asuransi lokal mulai berani menanggung porsi risiko yang lebih besar, namun proyek-proyek berskala jumbo dan berisiko tinggi masih mengandalkan dukungan reasuransi internasional.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post PT Asuransi Tokio Marine Indonesia Tempati Peringkat Ketujuh
Next Post PT Sompo Insurance Indonesia Berada di Peringkat ke-6

Member Login

or