Media Asuransi, JAKARTA – Jumlah perusahaan asuransi dan reasuransi syariah diproyeksikan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencapai 35 perusahaan full-fledged pada akhir 2026. Meski jumlah pemain bertambah seiring proses pemisahan unit syariah, PT AXA Sharia Life Insurance menilai kondisi tersebut belum mengarah pada perang tarif.
Presiden Direktur AXA Sharia Life Insurance Bukit Rahardjo mengatakan persaingan di industri asuransi syariah saat ini justru terlihat melalui beragam proposisi produk yang ditawarkan masing-masing perusahaan.
“Saya tidak melihat adanya perang tarif. Malah justru saya melihat adalah seluruh perusahaan malah justru menawarkan proposisi yang beragam,” ujar Bukit usai peresmian AXA Sharia Life Insurance di Jakarta, Jumat, 18 September 2026.
Menurut dia, semakin banyak pilihan produk akan membuat masyarakat dapat memilih perlindungan sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Kondisi tersebut juga dinilai dapat membantu memperbesar kue pasar asuransi syariah, termasuk dengan menjangkau kebutuhan dari kelompok masyarakat dan generasi yang berbeda.
|Baca juga: Pemain Asuransi Syariah Makin Banyak, AXA Sharia Life Tak Khawatir Kompetisi
Ia mengatakan pertumbuhan jumlah pemain seharusnya tidak hanya dilihat sebagai persaingan untuk mendapatkan pasar yang sama. Industri perlu bersama-sama memperluas penetrasi asuransi syariah ke segmen yang selama ini belum terlayani.
Salah satu segmen yang dinilai potensial adalah generasi Z yang dapat dijangkau melalui kanal digital. “Fokus kita bukan ke kompetisi, fokus kita bagaimana mengembangkan porsi ekonomi syariah asuransi syariah yang akan kita kembangkan,” ujarnya.
|Baca juga: New RBC Mulai 2027, AXA Sharia Life Insurance Siap Penuhi Aturan OJK
Dia juga melihat ruang kolaborasi antarpelaku masih terbuka, termasuk dengan ekosistem digital syariah dan perbankan syariah melalui skema bancassurance. Menurutnya, perkembangan perbankan syariah yang semakin besar dapat menjadi peluang bagi industri asuransi syariah untuk memperluas perlindungan kepada masyarakat.
“Jadi buat saya, tidak kompetisi perang tarif, tapi saya lihat kompetisinya sehat menawarkan proposisi-proposisi yang berbeda,” tutup Bukit.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
