1
1

Citi: Likuiditas Jadi Fokus Utama di Tengah Disrupsi Rantai Pasok Global yang Berkelanjutan

Gedung Citi. | Foto: Citi Indonesia

Media Asuransi, GLOBAL – Citi Institute dan bisnis Services Citi meluncurkan laporan terbaru berjudul ‘Transformasi Lanskap Global: Pergeseran dalam Perdagangan Global dan Foreign Direct Investment (FDI)’. Laporan ini meneliti bagaimana prioritas perusahaan terus berkembang seiring semakin matangnya rantai pasok global.

Temuan utama dalam laporan ini menyoroti bahwa perusahaan semakin memperhatikan modal kerja, likuiditas, dan visibilitas kas di tengah jalur perdagangan dan hubungan pengadaan terus mengalami perubahan.

Berdasarkan data dalam laporan, konflik di Timur Tengah serta tingginya harga minyak dan produk olahan minyak telah membuat Indeks Tekanan Rantai Pasok Global atau Global Supply Chain Pressure Index (GSCPI) Citi tetap berada pada level tertinggi yang bertahan sejak periode 2021-2022.

Dalam kondisi tersebut, para bendahara perusahaan semakin fokus untuk mengoptimalkan kas yang tersimpan dalam rantai pasok mereka, sehingga menciptakan keunggulan likuiditas yang secara aktif memperkuat ketahanan perusahaan.

Sebanyak 72 persen perusahaan global menempatkan upaya melepaskan likuiditas yang terperangkap sebagai prioritas strategis utama mereka dalam 12 bulan ke depan, meningkat dari 66 persen pada awal 2026.

Selain itu, 64 persen responden menyatakan bahwa identifikasi likuiditas yang terperangkap dalam rantai pasok kini menjadi faktor utama dalam penyusunan strategi modal kerja mereka, meningkat dari 55 persen pada awal 2026.

Global Head of Trade and Working Capital Solutions, Citi Services Adoniro Cestari menyatakan selama beberapa tahun terakhir, percakapan didominasi oleh topik ketahanan melalui diversifikasi. Perusahaan mendiversifikasi basis pemasok dan merancang ulang strategi pengadaan mereka untuk memperkuat operasional bisnis mereka.

“Kini, tim bendahara mulai fokus pada pertanyaan: di mana kas kami tersimpan, dan seberapa cepat kas tersebut dapat dimanfaatkan?” ujarnya, dikutip dari keterangan resminya, Jumat, 18 September 2026.

Sedangkan data arus pembayaran dan penerimaan dari proses bisnis Citi menunjukkan perdagangan global terus tumbuh meskipun terjadi disrupsi. Secara keseluruhan, arus pembayaran meningkat 40 persen secara tahunan pada semester pertama 2026, dengan pertumbuhan tercatat di seluruh wilayah utama yang dipantau Citi.

|Baca juga: Bukan Sekadar Tambang, MIND ID dan Jejak Manfaat untuk Negeri

|Baca juga: Biaya Perawatan Gangguan Pernapasan Naik 106%, Begini Kata Prudential Indonesia

Pertumbuhan pembayaran di sektor teknologi memimpin peningkatan ini, seiring pembangunan infrastruktur AI global yang terus membentuk ulang arus modal. Secara global, arus pembayaran sektor ini meningkat 50 persen secara tahunan, dengan pertumbuhan di Asia dan Amerika Latin masing-masing mencapai 60 persen dan 58 persen.

Arus domestik di Amerika Serikat meningkat 37 persen, sementara arus lintas negara dari Taiwan ke Singapura tumbuh 90 persen dan dari Amerika Serikat ke Taiwan meningkat sebesar 36 persen. Arus domestik dan lintas negara tersebut menjadi pendorong utama pertumbuhan sektor teknologi secara keseluruhan.

Jalur perdagangan turut berubah mengikuti pergeseran arus pembayaran tersebut. Ekspor kendaraan dan suku cadang dari China menggambarkan tren ini dengan jelas. Amerika Utara yang sebelumnya menyerap sekitar sepertiga dari pengiriman tersebut kini hanya menyumbang sekitar 13 persen pada pertengahan 2026.

Sebaliknya, Afrika muncul sebagai salah satu negara tujuan ekspor dengan pertumbuhan tercepat, hampir menggandakan pangsanya dari sekitar delapan persen pada 2022 menjadi lebih dari 15 persen saat ini. Amerika Latin juga menjadi wilayah dengan peningkatan terbesar dalam kategori tersebut.

Pergeseran serupa juga terjadi di sektor pertanian. Brasil dan Argentina membantu Amerika Latin memperkuat posisinya sebagai pemasok produk pertanian terbesar bagi China, dengan pangsa pasokan yang dalam beberapa kuartal terakhir berkisar antara sepertiga hingga hampir setengah dari total impor China.

Sementara tekanan biaya terus menjadi faktor utama yang memengaruhi pandangan perusahaan terhadap pengelolaan modal kerja. Secara global, 68 persen perusahaan menyatakan kenaikan biaya input merupakan faktor utama yang memengaruhi keputusan terkait modal kerja.

Sedangkan 59 persen menyebut bunga yang tinggi turut memengaruhi pendekatan mereka dalam mengelola modal kerja. Digabung bersama, faktor-faktor tersebut menyoroti tingginya biaya saat ini merupakan tantangan bersifat struktural, bukan sekadar siklus ekonomi. Paparan terhadap tarif menunjukkan gambaran yang tidak merata.

Tarif menjadi pendorong utama relokasi rantai pasok bagi perusahaan di Asia Pasifik (46 persen) dan Amerika Latin (44 persen), namun hanya dua persen responden di Amerika Utara yang menyebutkannya, menunjukkan bagaimana dampak lingkungan perdagangan saat ini dirasakan secara berbeda di setiap wilayah.

Minat terhadap penggunaan perangkat digital untuk mendukung kinerja modal kerja juga terus meningkat. Hampir setengah dari perusahaan menyatakan sedang mengevaluasi solusi Distributed Ledger Technology (DLT) dan blockchain.

Sementara penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam operasi perdagangan naik hampir tiga kali lipat, dari 16 persen pada 2024 menjadi 45 persen saat ini. “Ada kecenderungan untuk melihat setiap guncangan sebagai bukti globalisasi sedang mengalami kemunduran. Laporan ini menunjukkan cerita yang lebih bernuansa,” tukasnya.

Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan tahap berikutnya dalam pengambilan keputusan terkait rantai pasok akan ditentukan tidak hanya oleh prioritas operasional, tetapi juga oleh prioritas kebendaharaan, seiring perusahaan berupaya memperkuat arus kas dan meningkatkan ketahanan bisnis mereka.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Bukan Sekadar Tambang, MIND ID dan Jejak Manfaat untuk Negeri

Member Login

or