Media Asuransi, JAKARTA – Allianz Life Indonesia menyatakan pasar saham Amerika Serikat (AS) telah mengalami pemulihan yang cukup signifikan setelah penurunan tajam yang terjadi usai ‘Liberation Day’. Hal itu terungkap berdasarkan pandangan dari Allianz Global Investor dalam Outlook 2026: Navigate new pathways.
“Namun demikian, indikator ekonomi fundamental menunjukkan bahwa kondisi perekonomian masih berada dalam situasi yang relatif belum stabil,” kata Country Manager & President Director Allianz Life Indonesia Alexander Grenz dikutip dari pernyataannya, Minggu, 31 Mei 2026.
|Baca juga: BFI Finance (BFIN) Klarifikasi soal Berita Penarikan Paksa Mobil di Tangerang Selatan
|Baca juga: Wamenkeu Tegaskan Ekonomi Indonesia Masih Stabil, Tidak Seperti Krisis 1998
Ia menambahkan seiring dengan potensi kenaikan inflasi akibat dampak berkelanjutan dari penerapan tarif yang tinggi, serta prospek pertumbuhan ekonomi yang cenderung moderat, Amerika Serikat menghadapi risiko stagflasi menjelang 2026.
“Di sisi kebijakan moneter, meskipun Federal Reserve diperkirakan melanjutkan siklus penurunan suku bunga, namun kekhawatiran mengenai meningkatnya tekanan politik terhadap independensi pengambilan keputusan kebijakan moneter tetap berpotensi menekan kepercayaan pasar,” ucapnya.
View this post on Instagram
Di sisi lain, Allianz Life Indonesia menyebutkan prospek Zona Euro bergerak sesuai jalur dengan laju pertumbuhan yang tetap moderat di tengah hambatan struktural. Produk Domestik Bruto (PDB) diperkirakan tumbuh 1,1 persen pada 2026 setelah tumbuh 1,4 persen pada 2025.
“Pasar berkembang atau Emerging Markets (EM) tidak sekadar berada di posisi pasif dalam dinamika ekonomi global,” kata Alexander.
|Baca juga: Wamenkeu Beberkan Sejumlah Masalah Utama Penghambat Ekonomi Daerah
|Baca juga: Perang AS-Iran Tekan Bisnis Reasuransi, Premi Turun 1,43% per Maret 2026
Secara keseluruhan, lanjutnya, EM tetap menunjukkan ketahanan yang solid, didukung oleh siklus ekonomi yang relatif lebih positif dibandingkan dengan negara maju serta posisi eksternal yang umumnya kuat.
“Kondisi ini memungkinkan banyak negara berkembang menghadapi ketidakpastian global dengan fondasi makroekonomi yang lebih baik,” tutupnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

