Media Asuransi, GLOBAL – Kerugian yang ditanggung perusahaan asuransi akibat bencana alam di Asia pada semester I/2026 diperkirakan kurang dari US$2 miliar. Laporan semester I/2026 Natural Catastrophe and Climate dari Gallagher Re mengungkapkan angka ini menjadi yang terendah sejak 2017.
Melansir laman Insurance Asia, Selasa, 21 Juli 2026, secara global, bencana alam sepanjang Januari hingga Juni 2026 menyebabkan kerugian ekonomi sekitar US$142 miliar. Sementara nilai klaim yang harus dibayar industri asuransi mencapai US$46 miliar.
|Baca juga: OJK Minta Industri Penjaminan Perkuat Manajemen Risiko di Tengah Dorongan Pembiayaan UMKM
Meski terdengar besar, namun kedua angka tersebut justru lebih rendah dibandingkan dengan beberapa tahun terakhir. Bahkan, ini menjadi total kerugian ekonomi semester pertama terendah sejak 2020 dan kerugian asuransi terendah sejak 2019.
Gallagher Re juga mencatat belum ada bencana yang memicu klaim asuransi di atas US$10 miliar selama lima kuartal berturut-turut. Kondisi ini membuat perusahaan reasuransi masih memiliki cadangan modal yang kuat.
|Baca juga: Modal Generali China Insurance Makin Tebal, Fitch Yakin Ekspansi Tetap Aman
Di balik turunnya nilai kerugian, dampak bencana tetap terasa. Dalam enam bulan pertama 2026 diwarnai gempa bumi besar di Venezuela, gelombang panas ekstrem di Eropa, hingga badai hebat yang melanda Amerika Utara.
Sepanjang periode tersebut, ada 30 bencana yang masing-masing menimbulkan kerugian ekonomi lebih dari US$1 miliar. Sebanyak 11 di antaranya juga membuat industri asuransi menanggung klaim lebih dari US$1 miliar.
Memasuki paruh kedua tahun ini, perhatian kini beralih ke musim puncak siklon tropis. Para ahli cuaca memastikan fenomena El Niño sudah mulai terbentuk dan diperkirakan terus menguat.
Badan Kelautan dan Atmosfer Amerika Serikat (NOAA) memperkirakan peluang El Niño mencapai kategori sangat kuat pada akhir 2026 mencapai sedikitnya 63 persen. Jika benar terjadi, risiko bencana alam di berbagai wilayah dunia berpotensi ikut meningkat.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
