Media Asuransi, JAKARTA – Gejolak geopolitik global, khususnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, mulai memberi tekanan terhadap industri reasuransi nasional pada awal 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kondisi itu berdampak terhadap meningkatnya eksposur risiko hingga penurunan premi pada sejumlah lini usaha.
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono mengatakan konflik geopolitik memengaruhi lini usaha yang berkaitan dengan perdagangan global dan sektor energi.
|Baca juga: Mirae Asset Sekuritas Sebut Rebound IHSG Masih Rapuh, Ternyata Ini Alasannya!
|Baca juga: IHSG Berpotensi Terkoreksi, BNI Sekuritas Sarankan 6 Saham Pilihan Ini untuk Investor
“Gejolak geopolitik, termasuk konflik antara AS dan Iran, berpotensi memberikan tekanan terhadap bisnis reasuransi sejak awal 2026. Kondisi ini meningkatkan eksposur risiko, khususnya pada lini usaha yang sensitif terhadap perdagangan global dan energi,” ujar Ogi, dikutip dari jawaban tertulisnya, Jumat, 29 Mei 2026.
Menurut dia, ketidakpastian global turut meningkatkan risiko klaim akibat gangguan operasional dan aktivitas perdagangan internasional. Di sisi lain, tekanan terhadap harga premi reasuransi juga mulai terjadi seiring penyesuaian risiko atau hardening market.
View this post on Instagram
Berdasarkan data OJK per Maret 2026, premi reasuransi tercatat sebesar Rp7,62 triliun atau turun Rp0,11 triliun dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara tahunan, penurunan tersebut setara 1,43 persen.
Penurunan premi juga terjadi pada sejumlah lini usaha terkait. Premi reasuransi untuk rangka kapal tercatat turun Rp0,04 triliun atau 11,40 persen secara tahunan. Sementara premi energi onshore turun Rp0,03 triliun atau 17 persen secara tahunan.
|Baca juga: BFI Finance (BFIN) Klarifikasi soal Berita Penarikan Paksa Mobil di Tangerang Selatan
|Baca juga: Mirae Asset Sekuritas Sebut Saham Sektor Perbankan Berpotensi Cuan saat IHSG Terjungkal
Adapun premi energi offshore juga mengalami penurunan signifikan dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Ogi menyebut kondisi geopolitik global masih menjadi faktor yang perlu diwaspadai industri reasuransi karena berpotensi memengaruhi stabilitas bisnis dan profil risiko perusahaan.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

