Media Asuransi, JAKARTA – Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Budi Herawan menilai kemunculan kasus Hantavirus belum akan memicu lonjakan pembelian produk asuransi kesehatan di Indonesia.
Menurut dia, masyarakat Indonesia saat ini dinilai semakin dewasa dalam menyikapi isu kesehatan yang ramai di media sosial. Budi mengatakan pemerintah sejauh ini juga sudah memberikan respons dan langkah antisipasi terhadap potensi penyebaran virus tersebut.
|Baca juga: BFI Finance (BFIN) Klarifikasi soal Berita Penarikan Paksa Mobil di Tangerang Selatan
|Baca juga: Rupiah Tembus Rp17.500, Bos BI Sebut Ini Biang Keroknya!
Karena itu, ia menilai, masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan. “Saya lihat di Indonesia memang Kementerian Kesehatan khususnya memang sudah memberikan warning tapi saya belum melihat bahwa ini akan menjadi wabah yang menjadi atau menakutkan di Indonesia,” ujar Budi, kepada Media Asuransi, dikutip Senin, 18 Mei 2026.
Ia menilai Hantavirus berbeda dengan covid-19 yang sebelumnya sempat menimbulkan kepanikan besar di masyarakat. Menurutnya, pemerintah juga sudah memiliki pengalaman menghadapi wabah serupa.
“Jadi ya kita tunggu sajalah bahwasanya ini virus yang memang ada tapi kalau kita bandingkan dengan covid ini bukan virus yang mematikan langsung ya kalau memang virus ini sudah memasuki wilayah Indonesia gitu,” katanya.
Budi mengatakan pemerintah diyakini telah melakukan pemetaan terhadap potensi penyebaran virus tersebut. Ia menilai pengalaman saat pandemi covid-19 menjadi modal penting dalam pengendalian wabah.
|Baca juga: Budi Herawan Dorong MAIPARK Ekspansi Reasuransi Katastropik di ASEAN
|Baca juga: Prudential Syariah Bayar Santunan Klaim dan Manfaat Rp2,2 Triliun di 2025
Meski isu Hantavirus ramai diperbincangkan di media sosial dan platform digital, namun Budi menilai kondisi itu belum tentu mendorong masyarakat membeli asuransi kesehatan. Ia menilai masyarakat kini lebih rasional dalam menentukan kebutuhan proteksi.
“Enggak lah kalau saya lihat ginilah masyarakatnya sudah mulai dewasa ya, udah mulai dewasa. Dewasa ya memang media sosial itu menjadi satu trigger ya sehingga itu bisa menjadi alat jualan tapi yang saya katakan masyarakat sudah mulai dewasa mereka juga melihat apakah perlu urgensinya,” katanya.
Ia menilai karakter masyarakat Indonesia berbeda dengan negara lain yang cenderung langsung membeli proteksi setelah muncul suatu peristiwa besar.
Menurutnya, ramainya pembahasan mengenai Hantavirus belum tentu mendorong masyarakat untuk membeli asuransi kesehatan karena masyarakat Indonesia dinilai tidak memiliki pola panic buying terhadap produk proteksi.
|Baca juga: KUPASI Nilai QR Code Pialang Asuransi Bisa Dongkrak Kepercayaan Publik
|Baca juga: Bos Allianz Indonesia: Inovasi Produk dan Penguatan Kolaborasi Pemicu Premi Tetap Tumbuh di Kuartal I/2026
Budi menambahkan rendahnya tingkat literasi asuransi masih menjadi tantangan utama industri dalam mendorong peningkatan inklusi keuangan masyarakat. Masyarakat Indonesia bukan tipikal yang langsung membeli proteksi setelah terjadi suatu peristiwa sehingga pertumbuhan inklusi asuransi masih menjadi pekerjaan rumah bagi industri.
Ia menambahkan berbagai bencana yang terjadi belakangan ini juga belum mampu mendorong peningkatan signifikan terhadap pembelian produk asuransi. “Kemarin kejadian gempa kemarin banjir yang terjadi di Aceh apakah langsung orang beli asuransi? Tidak juga, karena masih ada protection gap. Banyak indikatornya,” tutup Budi.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

