Media Asuransi, JAKARTA – Di tengah ketidakpastian global, DBS Research menilai sektor-sektor berbasis nilai tambah tetap menjadi daya tarik utama investasi Indonesia. Hal itu terutama ekosistem kendaraan listrik (EV), hilirisasi nikel, energi terbarukan, dan pembangunan infrastruktur.
Head of Research Indonesia DBS Group Research William Simadiputra menegaskan konsistensi arah kebijakan akan menjadi faktor penting dalam menjaga minat investor asing. Ia menekankan sektor EV ecosystem, pengolahan nikel, energi terbarukan, dan infrastruktur tetap menjadi pilar kekuatan pertumbuhan.
“Konsistensi kebijakan hilirisasi akan menjadi magnet utama bagi investor asing di tengah ketidakpastian yang terjadi,” kata William, dalam media briefing DBS Group Research, beberapa waktu lalu.
|Baca juga: Bos Allianz Indonesia: Inovasi Produk dan Penguatan Kolaborasi Pemicu Premi Tetap Tumbuh di Kuartal I/2026
|Baca juga: Bos Orion Reasuransi Pede New RBC Jadi Angin Segar bagi Industri Asuransi
DBS Research juga mencatat kredit investasi masih tumbuh positif, terutama di sektor konstruksi, pertambangan, dan agrikultur. Hal ini menunjukkan minat investasi domestik masih relatif terjaga meski pasar keuangan global bergejolak.
Lebih lanjut, DBS Research menilai, ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang paling memengaruhi prospek ekonomi global dan Indonesia. Risiko gangguan distribusi energi global dinilai dapat memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan tekanan inflasi domestik.
Dalam skenario dasar, harga minyak diperkirakan berada di kisaran US$80–85 per barel. Namun dalam skenario ekstrem, gangguan distribusi global berpotensi mendorong harga minyak melonjak hingga US$100–150 per barel.
|Baca juga: DBS Research Soroti Risiko Tekanan Rupiah terhadap Prospek Pertumbuhan Ekonomi RI
|Baca juga: BFI Finance (BFIN) Klarifikasi soal Berita Penarikan Paksa Mobil di Tangerang Selatan
Selain harga energi, pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan harga produsen (PPI), dan risiko cuaca akibat El Nino juga menjadi faktor yang dapat meningkatkan tekanan harga dalam beberapa kuartal mendatang.
Kemudian DBS Research menilai Bank Indonesia akan semakin fokus menjaga stabilitas nilai tukar dan likuiditas pasar di tengah meningkatnya tekanan eksternal. Meski suku bunga acuan masih dipertahankan, namun arah kebijakan moneter dinilai cenderung lebih hawkish.
|Baca juga: Ekonom Permata Bank: Konsumsi Domestik Masih Jadi Penopang Ekonomi Indonesia
|Baca juga: Chief Economist Permata Bank Soroti Risiko Global terhadap Pasar Keuangan RI
DBS Research juga menilai penguatan institusi dan reformasi pasar keuangan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi jangka panjang Indonesia. Reformasi pasar modal, penguatan kepastian hukum, dan peningkatan tata kelola dinilai menjadi perhatian utama investor global.
“Indonesia dinilai perlu memperdalam pasar modal domestik dan mengurangi ketergantungan terhadap aliran dana asing melalui penguatan peran investor lokal, termasuk dana pensiun domestik, manajer investasi lokal, dan Danantara sebagai sumber pembiayaan jangka panjang,” pungkasnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

